Qola Ismail atau Kala Ismail : Aku menggunakan kata ini karena aku berpikir hidupku seperti seorang Nabi bernama Isnail,. Sebuah perjalanan hidup, dimana aku harus memilih kebebasan ku atau ikut dalam ketaatan ku bersama orang tua ku. Lalu ternyata aku adalah Ismail yang akan mengikuti harapan orang tua ku namun tetap berharap seperti masa dimana Ismail terus berharap saat itu ada keajaiban dari tuhan untuk membebaskan dia. Dan untuk ku adalah kebebasan dari PENYIMPANGAN ini.

Asmara ku bersama beberapa wanita

KINI KITA MENINGGAT ASMARA KU DENGAN BEBERAPA WANITA,


       Mengingat semua hal itu, aku sangat berterima kasih pada Rino dan teman-teman. Entah mereka dengan sengaja untuk membuat saya dalam masalah ataupun tidak. Tapi karena hal-hal yang terjadi pada masa itu aku tidak lagi menjadi anak yang terlalu lembut dan kemayu layaknya seperti wanita. Hingga pada masa SMP ku, aku mulai menjadi seseorang laki-laki yang utuh ketika seorang wanita menjadi pacar ku.

Dia adalah Inggrid wanita pertama yang menjadi pacar ku, dia seksi dengan badan bagusnya serta dada yang besar menjadikannya disukai setiap pria dikelas. Namun pada waktu itu aku sedang tidak berpikir untuk mendapatkan pengakuan seorang pria aku tidak perlu berpacaran. Kesukaan ku dalam puisi sering tanpa sengaja menjadikannya objek saat itu dan ternyata dia mengira aku menyukainya. Hingga saat teman-temannya bilang kepadaku kalau dia suka pada ku, terlintas dalam pikiran ku untuk memanfaatkan keadaan saat itu. Tidak berpikir terlalu lama aku langsung mengatakan suka pada Inggrid walaupun semua itu yang aku lakukan hanyalah agar kejantanan ku tidak dipertanyakan oleh teman-teman dikelas ku. Tapi pacaran dengan Inggrid hanya formalitas, aku tidak mengerti cara memperlakukannya.

Karena tidak memiliki perasaan lebih terhadapnya dan juga aku tidak perna memiliki pengalaman dalam berpacaran hubungan itu terlihat sangat biasa bagi ku. Kami hanya bertemu di sekolah saja, makan bersama di kantin dan mengerjakan tugas sekolah bersama kadang dikelas atau di taman sekolah. Hubungan itu tidak begitu spesial bagiku, aku hanya merasa seperti berteman pada umumnya. Namun hidup ku menjadi aman karena keberadaan Inggrid di samping ku sebagai pasangan, semua teman sekelas tahu tentang hubungan kami. Bahkan teman-teman Inggrid di kelas lainnya pun tahu akan hubungan kami.

Inilah awal mulanya aku mencoba mempertahankan pengakuan orang lain bahwa aku seorang pria. Namun hubungan ini tidak berjalan terlalu lama, karena tiga bulan kami bersama saat itu ada siswi baru  masuk menjadi bagian kelas kami. Dia bernama Cristina, waktu cantik dengan rambut panjang dan wajah blesteran itu mengacaukan hubungan ku dan Inggrid. Cristina siswi pindahan dari SMP negeri, dia pindah ke SMP kami karena membuat ulah dengan berkelahi di sekolah dan entah masalahnya apa. Rumor kepindahannya ke SMP kami begitu cepat menyebar, namun keberuntungan Cristina adalah di kelas ada seorang teman bernama Melisa yang dulu satu SD dengannya dan Melisa pun dekat dengan ku. Mungkin karena kepribadian ku yang masih lembut dan sopan, aku merasa prihatin dengan Cristina saat itu dan mulai sangat dekat dengannya di bantu oleh Melisa.

Melisa sering menyuruh ku untuk mengajarkan Cristina beberapa mata pelajaran yang dia belum mengerti. Aku merasa sangat cepat akrab dengan dia karena pada dasarnya Cristina siswi yang pintar walaupun memang kasar. Tapi hal itu menjadi buruk, karena Ingrid cemburu dan berpikir aku menyukai Cristina. Ingrid merasa aku tidak terlalu memperhatikan dia lagi dan hubungan kami jadi sangat biasa. Padahal, aku berpikir yang kulakukan dari kami bersama sampai hari itu adalah hal yang biasa saja dan tidak ada yang berubah. Percintaan SMP ku begitu lucu, dengan sedikit kalimat dan tendangan Ingrid kearah kemaluan ku hubungan kami berakhir hari itu.

"Apa yang kamu lakukan dengan dia? Nisa bilang kamu sudah pacaran dengan Cristina." Nada Inggrid jelas sangat marah pada ku,

Lalu aku keluar dari meja ku dan mencoba menjelaskannya tentang niat baik ku pada Cristina. Tapi hari itu wanita itu terlalu mengerikan, mungkin hari itu dia sedang PMS atau semacamnya. Karena tiba-tiba dia menendang kemaluan ku, dan seketika aku merasa kesakitan dan terjongko di samping meja. Karena kejadian itu aku tidak pedulih lagi dengan Inggrid, terlebih pada dasarnya aku juga tidak memiliki keinginan apapun bersama dengannya. Aku berusaha bangun dan kembali ke kursi ku dan Inggrid pergi meninggalkan mejaku. Melihat hal itu Melisa menjadi merasa bersalah pada ku, beberapa kesempatan kami mengobrol aku coba yakinkan Melisa bahwa aku baik-baik saja dan tidak ada masalah sedikit pun. Selama hubungan kami berakhir aku belum menjalani hubungan dengan Cristina, kami melakukan hal-hal seperti biasanya saja. Tapi Ingrid selalu membuat masalah dikelas, dia menjadi sangat senonok dengan dekat bersama pria-pria dikelas. Mungkin dia berpikir dapat membuatku kesal dan cemburu, beberapa pria terkadang memanfaatkan hal itu dengan memegang tubuhnya tanpa Inggrid marah sedikitpun. Selama itu kami tidak saling menegur mungkin setelah hubungan ku yang tiga nanti bersama Wahyuni yang akan aku ceritakan baru sempat saling menyapa kembali dengan Inggrid.



       Mungkin kalian bertanya siapa Melisa,

Dia teman wanita sekelas ku yang memiliki gambaran tubuh gemuk namun aktif dan baik. Memang  mungkin seringnya Melisa mendekati ku karena tugas-tugas sekolah. Karena dari SD sampai SMA nanti dan bahkan kuliah aku adalah anak yang cukup pandai dalam pelajaran. Tapi apapun itu, bagiku selama teman-teman ku tidak membuat saya down secara mental saya masih siap menjadi bagian dari lingkungan sosial yang sudah terbentuk jauh sebelum aku lahir. Setelah aku putus dengan Ingrid, Melisa terus merasa bersalah dengan kejadian itu dan berulang kali bertanya padaku apa aku baik baik saja. Lalu berulang kali juga aku jelaskan bahwa aku tidak memiliki masalah akan hal itu, tapi Melisa merasa sangat terganggu atas perbuatan Ingrid yang sering mengejek ku dengan berkata bahwa aku bukan laki-laki. Bahasa lainnya mungkin adalah teriakan Inggrid sesekali mengejek ku di kelas dengan kata banci. Yeah, Inggrid sering duduk bersama pria-pria dikelas dan menyebarkan rumor aku banci karena tidak memperlakukannya dengan baik. Kadang bukan rumor, Ingrid beberapa kali berteriak pada ku dengan kata banci dan ketika aku menghampirinya dan mempertanyakan maunya apa, aku harus siap dengan kemaluan ku ditendang olehnya ataupun pipi ku di tamparnya. 

         Cukup aneh wanita itu, dan mungkin karena itulah Melisa merasa bersalah lalu menjodohkan ku dengan Cristina. Waw, kamu bayangkan lah, wanita cantik dengan rambut panjang dan wajah blesteran itu menjadi incaran semua pria di seluruh SMP dan kini akan menjadi pacar ku. Tapi sayangnya Cristina memang tempramen, isu tentang dia berkelahi dengan teman prianya sewaktu SMP yang dulu adalah trending topic bagi kaum pria. Setalah cukup lama saya putus dengan Inggrid, akhirnya usaha Melisa mendekatkan saya dengan Cristina berhasil. Kami akhirnya memutuskan pacaran saat itu, dia wanita yang memang pintar dan sama dengan sebelumnya aku merasa kami hanya menjadi teman belajar yang sangat aktif serta menyenangkan. Dari sekian banyak wanita yang aku pacari selama hidupku, hanya Cristina yang setidaknya dikenal dan diketahui oleh keluarga ku. 

Saat itu pada pernikahan saudara perempuan ku yang ke empat, Cristina dan Melisa datang kerumah hal itu tentu karena ulah Melisa. Tapi yang aku tidak tahu ternyata, saudara perempuan ku yang ketiga cukup kenal dengan Cristina. Hal itu terjadi karena rumah saudara perempuan ku yang ketiga berdekatan dengan rumah Cristina di pasar. Say hello terjadi disana, Cristina menjadi wanita pertama dan terakhir yang keluarga ku tahu bahwa aku memiliki pacar seorang wanita. Cristina menjadi penolong dan sekaligus rasa sesal ku dalam hidup ini karena puluhan masalah yang aku hadapi setelah itu. Mengetahui aku berpacaran dengan Cristina, saudara perempuan ku sangat antusias menceritakan hal itu di dalam keluarga ku. Tamu-tamu dalam acara itu dan orang tua ku melihat kearah Cristina.

Lalu ketika mereka berada di depan rumah, mama mempersilahkan Cristina dan Melisa masuk ke rumah karena saat acara itu aku sedang menjaga keponakan ku di kamar. Semua orang berbisik, orang tua ku sangat senang saat itu melihat kejadian itu. Walaupun kenyataannya, Melisa datang untuk memberikan tugas sekolah kepada ku dan sekaligus meminjamkan buku kepada ku. Aku merasa hidupku sudah beruntung saat itu, dimana aku telah diselamatkan oleh segala macam persepsi yang timbul saat Cristina dan Melisa datang kerumah. Namun setelah Cristina, tidak ada satupun wanita yang datang sendiri kerumah atau pun aku bahwa untuk dikenalkan kepada orang tuaku sampai saat ini.

Mari kita ingat kembali mengapa Cristina menjadi keberuntungan sekaligus masalah bagiku. Yeah, Cristina memang keberuntungan bagiku karena dengan kedatangannya sebagai pasangan ku, dia membantu mempertegas persepsi orangtuaku dan tetangga bahkan semua orang secara luas  bahwa aku laki-laki sejati. Dia membantu ku untuk setidaknya tidak perlu membuat omongan-omongan bahwa aku laki-laki dan aku menyukai wanita. Terlebih setelah kejadian hari itu, saudara perempuan ku semakin dekat dengan Cristina dan entah apa yang mereka lakukan jauh dari sepengetahuan ku. Namun dari sedikit keberuntungan itu, beberapa masalah muncul karena kedatangan Cristina kepada ku.

Suatu hari sikap Cristina berubah pada ku, kami mulai saling tidak tegur sapa dan terkadang Cristina menjauhi ku. Lalu aku mencari tahu pada Melisa, tapi tidak ada yang aku dapatkan dari dia. Melisa hanya menyuruh ikuti saja, diam dan jangan mengganggunya karena itu lebih baik bagiku. Kejadian itu ternyata mungkin setelah dua bulan kedatangannya kerumah saat itu.  Tapi sampai saat ini aku tidak pernah mendapatkan jawaban atas apa yang terjadi saat itu tentang ku dan Cristina. Hingga suatu hari, saat kami sedang berada di mata pelajaran matematika dengan guru killer yang siap memukul kami memakai mistar kayu atau dengan tulang-tulang dari jari tangannya yang begitu keras ke kepala kami.

Hari itu Cristina maju kedepan kelas, beberapa menit Cristina berdiri disana dan menunjukan ekspresi kebingungan. Dengan lugunya aku mencoba membantu, tapi dia tidak menghiraukannya dan malah menoleh kearah lain. Tiba-tiba guru ku memanggil saya kedepan untuk mengerjakan soal tersebut. Cristina di suruh duduk dengan sebelumnya kepala Cristina dipukul menggunakan jari-jari yang keras itu. Begitulah moment terburuk yang akan ku lalui cukup lama bersama Cristina di masa SMP. Karena kejadian itu, Cristina sangat kesal dengan ku, ternyata setelah kejadian pagi itu di gang yang bisa aku lalui saat pulang sekolah menuju rumah Cristina menunggu ku. Saat itu aku tidak berpikir buruk apapun, aku maju dan mencoba melewatinya yang menungguku dihadapanku. Lalu tanpa sapaan, Cristina menerjang perutku hingga aku tersungkur di tanah dan merasa kesakitan. Dia mengocehkan banyak hal,



Dia berteriak pada ku, "jangan sok pintarlah, kamu kira dikelas itu hanya kamu yang pintar. Dan jangan berpikir macam-macam, aku berpacaran dengan kamu itu hanyalah karena taruhan dengan Melisa dan teman-teman. Laki-laki pas-pasan seperti kamu itu hanya memiliki kelebihan otak saja, kala." begitulah lirik lagu indah dari wanita tercantik di  masa itu yang sampai saat ini masih aku hafal dan menjadi kenangan memalukan milik ku.

Karena diriku mencoba membantunya, menurutnya hal itulah membuat dia di pukul oleh guru kami dan dia merasa malu pagi itu. Lalu dia menarik ku kembali, memukul lagi dan aku mencoba menahan tangannya agar tidak menyakiti ku. Pada jeda waktu yang sedikit itu aku melihat orang-orang melihat kami tanpa memisahkan kami berdua. Perasaan malu karena berkelahi dengan wanita membuatku takut orang akan berpikir aneh kembali kepadaku. Dalam lamunan itu Cristina mencoba melepaskan dirinya dan kembali memukul ku. Konyolnya, karena aku takut menyakiti dirinya saat itu tanpa sengaja aku memegang rambutnya. Lalu aku berpikir dan berharap dia akan merasa sakit lalu berhenti bergerak sehingga kami bisa bicara. Tapi hal itu tidak menolong ku, untung saja ada kakak kelas SMA yang satu kompleks dengan SMP  memisahkan kami saat itu. Semenjak kejadian itu, keesokan harinya Cristina memotong rambutnya menjadi pendek dan mulai berteman dekat dengan Inggrid. Aku menjadi siswa pintar namun juga siswa yang sangat takut dikelas dengan dua orang wanita yang membenci ku. Aku mencoba bicara dengan Melisa, dari dia aku mendapatkan jaawaban berbeda.

Aku mendekati melihat di kanti hari itu dan bertanya,"Mel, kemarin aku berkelahi dengan Cristina. Mungkin karena itu hari ini dia tidak masuk kelas. tapi ada sesuatu yang ingin aku tanyakan pada kamu."

Hari itu sepertinya Melisa belum tahu masalah perkelahian ku dengan Crirstina, "Apa Kal, kenapa bisa kalian berkelahi?"

aku mencoba menjelaskan masalahnya dan langsung bertanya pada intinya,"saat perkelahian itu dia sempat bilang padaku kalau kami pacaran itu karena kalian sedang taruhan. Dan rasanya aku meyakini apa yang dia katakan, mana mungkin orang seperti dia dapat menyukai diriku."

Melisa mencoba menenangkan ku, dan mengajakan sarapan saat itu sambil bicara. "tidak Kal, aku berani bersumpah kalau dia memang menyukai kamu. hari dimana dia aku menyuruhmu mengatakan suka padanya adalah hari dimana dia bertanya apakah kamu juga menyukai dirinya." Lalu aku bertanya kenapa dia tiba-tiba menjauh, dan Melisa menjelaskan kepada ku, "mantanya kembali padanya dan Cristina sedang bingung saat itu. Tapi kamu membuat masalah dengannya, padahal kamu tahu kalau dia adalah wanita yang pemarah dan arogan. Dan sepertinya dia akan memilih kembali kepada mantannya."

Entah apa yang terjadi, Melisa dan Cristina mulai memiliki jarak antara pertemanan mereka. Kelas satu SMP ku menjadi sangat panjang aku lalui, Cristina terus berulah dengan ku dan pernah suatu hari aku menangis karena dia. Hal itu terjadi karena dia menarik tas ku diatasi meja dan melemparkannya kedepan kelas, aku hanya terdiam lalu dia mengoceh dan berkata kalau kami pacaran hanyalah karena dia taruhan dan semua orang memperhatikan kami. Tapi kalian jangan berpikir aku menangis karena mendengar hal itu, aku menangis karena setelah dia mengoceh dia memukul wajah ku namun aku tidak dapat membalasnya.

Aku melampiaskan kekesalan ku dengan menangis, hari itu aku nmenghancurkan usahaku yang selama ini ku bangun agar terlihat laki-laki menjadi tidak berarti lagi oleh Cristina. Namun untungnya Melisa selalu ada untuk meredam masalah itu, sehingga terkadang dia menjauh dan memilih diam saat itu. Melisa menjauhkan Cristina dariku dan mencoba melindungi aku, namun dengan kejadian itu teman-teman dikelas mulai memandang aneh dengan ku. Aku mulai cemas, aku berpikir orang-orang akan mulai berpikir bahwa aku memiliki keanehan. Cukup lama perjuangan ku di kelas melewati masalah ku dengan Cristina agar terus dapat bertahan sebagai pria. Teman Pria dikelas ku terkadang sering mengusulkan hal-hal cabul pada ku untuk membalas dia, tapi usulan itu selalu aku tertawakan dan menganggapnya angi lalu. Walaupun ulah Cristina yang membuatku menangis dikelas hari itu, tapi aku tetap mampu untuk terus mencoba berteman dan meyakinkan laki-laki dikelasku bahwa kau masih pria.

           Lalu hari itu tiba-tiba datang siswa baru lagi, namanya Wahyuni dia cantik dengan rambut panjang menghiasi dirinya. Wahyuni ternyata juga memiliki beberapa teman dikelas itu yang berada dekat dengan tempat tinggalnya. Rosi dan Yuni nama teman sekelas dan sekaligus tetangga didekat rumahnya saat ini. Kedatangan Wahyuni menjadi harapan bagiku, aku berpikir dapat mendekatinya dan membuat diriku tidak di pandang aneh lagi oleh teman-teman dikelas dan juga Inggrid atau pun Cristina. Aku mencoba mendekati Wahyuni dengan membantunya beradaptasi atas pelajaran di kelas. Wahyuni dan rosi duduk di depan bangku ku, hal ini membuat kami lebih sering menyapa dan terkadang Wahyuni yang lebih dulu mendekati ku untuk belajar bersama.

Hingga hari dimana Rosi memberikan surat kepadaku yang ternyata itu dari Wahyuni, dalam surat itu dia mengajak ku untuk berpacaran dan tanpa ragu esok harinya aku menunggunya di kelas dan bilang aku menyukainya. Begitulah cerita cinta ku dengan wanita di masa kelas satu SMP yang begitu rumit dan unik. Tapi perjalanan cinta ku dan Wahyuni hanya sebentar, setelah kami naik ke kelas dua aku dan ketiga wanita itu tidak satupun duduk dikelas yang sama. Karena tidak memiliki perasaan lebih dengan Wahyuni, setelah kami berbeda kelas aku tidak terlalu aktif mendekatinya. Bahkan jam istirahat pun aku terkadang sibuk bermain bersama teman-teman pria ku di kantin dan lapangan sekolah. Hingga akhirnya tanpa kata putus atau pun tidak, kami sudah saling menjauh dan aku mendengar kabar kalau dia sudah punya pacar baru. Kali itu aku merasa lega, karena dari wanita-wanita yang menjalani hubungan dengan ku. Hanya dengan Wahyuni aku bisa berpisah tanpa masalah dan dia membantu lepas dari pikiran orang kalau aku aneh.

Di kelas dua ternyata aku tidak lepas dari masalah. Karena aku berasal dari keluarga yang sederhana dan uang jajan ku sedikit, terkadang aku membantu teman-teman mengerjakan PR dengan biaya sarapan gratis di kantin. Pada hari itu Lala teman wanita sekelas ku mungkin merasa iseng atau jengkel dengan ku. Dia mengajakku taruhan untuk mampu mengajak pacaran Elisa yang saat itu adalah peringkat satu di kelas kami. Elisa adalah wanita yang cukup angkuh, dia pintar namun tidak terlalu cantik dan beberapa orang mungkin merasa jengkel dengannya karena susah diajak kerjasama dalam tugas sekolah. Dia juga sering melaporkan beberapa orang ke wali kelas jika ada masalah yang mungkin dia sendiri tidak dirugikan oleh hal itu.

Akhirnya aku meng-iyakan ajakan taruhan dengan Lala. Hanya dalam dua bulan aku harus dapat berpacaran dengan Elisa. Jika menang, aku akan mendapatkan Rp. 100.000 dari Lala sebagai hadiah. Namun jika kalah, aku harus  membantu mengerjakan semua tugas Lala sampai kenaikan kelas secara gratis. Masalah baru pun aku mulai, aku berusaha keras mendekati Elisa dengan alasan belajar bareng sampai terkadang mengikutinya ke kantin sekolah. Prilakunya memang sangat menyebalkan dan Sombong, dia peringkat satu dikelas sedangkan aku peringatkan dua saat itu. Berulang kali aku mencoba mendekatinya dengan alasan agar bisa pintar sepertinya tapi Elisa memang wanita yang sulit untuk didekati. Hingga hanya dua orang teman saja yang dia miliki dikelas yang dekat dengannya, mereka pun adalah teman satu SD-nya dulu.

Waktu ku hampir habis saat itu, hingga guru seni kami memberikan tugas kelompok yang isinya hanya dua orang. Hari itu keberuntungan ku, karena aku satu kelompok dengan Elisa, tugas nya membuat patung dari sabun dan di ukir sebaik mungkin. Sebagai wanita yang tegas, Elisa sangat proporsional dengan perintah guru itu. Kami mulai dekat, membahas tentang patung yang akan di buat dan alat yang akan kami gunakan. Satu Minggu kedekatan kami mulai terjalin, namun setelah tugas itu selesai dikerjakan pun Elisa belum memberikan perhatiannya kepada ku. Hingga aku mendekati temannya Uci, menjelaskan bahwa niat ku baik pada Elisa dan aku ingin menjadi kekasihnya. Tapi tidak gampang saat itu mendapatkan kepercayaan Uci, berulang kali dia mencari tahu tentang aku dengan teman semasa kelas satu ku. Lalu terkadang Uci langsung menanyakan kepada ku tentang mantan-mantan ku dan bagaimana hubungan ku sampai saat itu.

Untuk mendapatkan dukungan Uci, aku menjelaskan dengan jujur apa pun yang ditanyakan dia kepada ku. Hal itu pun aku lakukan agar tidak mendapatkan masalah jika dia kembali bertanya dengan teman-teman lama ku dikelas satu. Dua bulan hampir berakhir, hingga akhirnya aku mendapatkan surat dari Uci yang di tulis oleh Elisa. Akhirnya aku mendapatkan jawaban iya dari Elisa, kami pun mulai pacaran dan aku mendapatkan hadiah ku dari Lala. Tapi konyolnya, ada seorang yang memberi tahu Elisa bahwa dia dijadikan taruhan oleh ku dan Lala. Elisa menemui Lala dan mencari tahu kebenarannya tanpa sepengetahuan ku. Dari Lala, dia mendapatkan jawaban iya bahwa dia menjadi taruhan kami.

Dan akhirnya, tangan Elisa mendarat di pipi ku hari itu setelah istirahat selesai dan aku akan masuk kelas ternyata dia telah menunggu di depan kelas. Spontan semua orang dari dua kelas yang berdekatan melihat kearah ku, di sana juga ada Wahyuni yang melihat kejadian itu. Aku merasa malu hari itu dan membentak Elisa, "apa masalah mu? sakit tahu." sambil memegang tangan itu.

Lalu Elisa menjawab, "kamu yang kenapa, Lala sudah bilang kalau kita pacaran hanyalah karena taruhan mu dengan nya." Hari itu mungkin aku sedang lelah karena bermain, atau memang karena tidak adanya rasa suka ku pada wanita terutama Elisa hingga dengan muda aku menjawab dan menyakiti wanita itu. "Lalu kenapa jika? wanita angkuh dan sombong seperti mu tidak berhak menampar aku. kamu kira kamu yang rugi kita berpacaran, tidak! aku yang rugi karena orang-orang jadi tahu dan wanita lain mungkin tidak mau mendekati ku karena kamu."

Aku marah kepadanya dan karena kesalahannya itu, saat kami aduh mulut aku mengeluarkan banyak kalimat yang menyakiti wanita itu. Memang berbeda kali ini, aku telah terlalu banyak belajar dari kesalahan dimana aku terlalu ragu menyakiti wanita dan akhirnya aku melampiaskan nya pada dia kali itu. Elisa malu, aku terdiam masuk kelas karena guru-guru mulai datang memasuki setiap kelas. Aku tidak menghiraukan Lala saat dia memanggil ku karena begitu marahnya aku akibat masalah itu. Kemarahan ku mungkin bukan karena aku takut kehilangan Elisa, tapi karena Lala tidak mencoab menutupinya hingga membuat aku harus menyakiti seseorang dengan ucapan ku. Kejadian dengan Elisa pun adalah sebagian bayangan yang cukup sulit aku lupakan dalam hidupku. Karena memang pada dasarnya aku tidak memiliki ketertarikan apapun pada dia dan wanita pada umumnya. Mungkin penyesalan ku adalah karena ke egoisan ku aku telah membuat seseorang menangis dan kecewa karena ulah ku. Aku hanya merasa malu hari itu, dan juga merasa bersalah kembali karena dengan membuat Elisa menangis aku telah melakukan kesalahan yang cukup banyak hanya untuk sebuah pengakuan sebagai pria.

         Perjalan cinta ku dengan wanita saat SMP aku kira akan berakhir setelah dari Elisa. Aku berpikir aku telah mendapatkan cukup banyak pengakuan dari orang-orang terdekat ku dan juga siswa di SMP bahwa aku laki-laki. Hal seperti ini sering aku lakukan dalam kehidupan ku, hanya untuk mendapatkan pengakuan seorang pria aku akan mencoba mencari wanita yang akan ku jadikan pacar. Hal itu berlaku juga pada masa SMA, mungkin karena jarak setelah aku dan Elisa tidak saling pacaran aku mulai lepas kendali. Suara cempreng ku terkadang memang terdengar seperti wanita jika di perhatikan cukup lama. Hingga saat SMA aku mengikuti kegiatan organisasi Pramuka agar mendapatkan pengakuan sebagai pria.

Beberapa bulan mengikuti kegiatan itu aku merasa telah melakukan kesalahan. Kakak tingkat dalam keanggotaan mulai menjadikan ku bahwa olokan dan terkadang mereka memberikan hukuman yang cukup menyusahkan ku. Kedekatanku dengan beberapa wanita satu kelas yang juga ikut dalam organisasi itu menambah masalah bagi mereka. Aku di suruh memimpin barisan dan upacara karena bagi mereka suara ku itu lucu untuk ditertawakan. Lalu aku berpikir ulang untuk keluar dari organisasi itu, karena jika aku keluar mungkin akan lebih jelas orang-orang meragukan ku. Dan akan menjadi masalah cukup panjang dalam kegiatan ku sehari -hari disekolah karena aku masih akan terus bertemu dengan senior-senior ku itu. Terkadang mungkin hanya pikiran ku saja, ketika orang-orang memandang ke arah ku dan mulai berprilaku seakan mengejek aku jadi salah tingkah. Tapi untuk memastikan hal itu tidak terjadi lagi aku berusaha untuk melakukan apapun agar aku tidak di bilang banci sehingga tidak akan membuat keluarga ku malu akan hal itu.

Perjalan ku di Pramuka cukup banyak memberikan latihan pisik pada ku yang membuat tubuhku mulai berantakan layaknya seorang pria. Namun untuk hal itu pula, pendidikan ku harus aku korbankan walaupun tidak jatuh terlalu jauh. Bertahan lebih dari satu tahun dalam kegiatan itu, akhirnya angkatan baru pun masuk dan aku memiliki kesempatan mencari wanita yang akan ku dekati. Aku tidak dapat mendekati wanita di organisasi itu pada angkatan ku karena hampir semuanya adalah teman sekelas ku. Karena kesan pertama yang buruk saat masuk ke Pramuka dimana aku di suruh kedepan latah dan berteriak aneh itu membuat ku tidak memiliki keberanian mendekati mereka. Hingga angkatan baru masuk, akhirnya aku baru bisa percaya diri mendekati salah satu wanita itu.



Dia bernama Fitri, mendengar pendapat teman-teman bahwa Fitri tidaklah seperti penampilannya aku merasa tertarik saat itu untuk mencoba. Fitri dari luar sangat lembut, mata sipit dengan rambut panjang dan kulit putih layaknya China sering dipanggil Cece oleh teman seangkatannya. Tapi ternyata Fitri pernah pacaran sebelumnya dengan kakak pembina dalam organisasi ku dan menurut teman-teman, Fitri sudah pernah di pegang kemaluannya dan dadanya oleh dia. Hal itu menambah rasa penasaran ini, selain untuk mendapatkan pengakuan orang lain bahwa aku laki-laki, mendekati Fitri akan menjadi ajang uji coba ku pada nafsu ku kepada seorang wanita. Cukup lama mendekatinya, dibantu dengan teman-teman satu angkatan ku untuk mendekatkan ku kepadanya hingga malam pelantikan anggota baru Fitri akhirnya menerima ku menjadi pacarnya. Tidak butuh waktu lama kabar aku dan Fitri berpacaran menyebar di kalangan sekolah saat itu. Fitri yang memang juga suka pada ku dan memiliki perilaku sombong dengan menceritakan siapa saja pasangannya pada setiap temannya membantu ku untuk terdengar normal dengan menjadi pacarnya. Berjalan mungkin dua minggu aku mencoba memberanikan diri mengajaknya kesebuah warnet yang memiliki skat-skat yang cukup tinggi. Awalnya kami hanya menonton YouTube dan membuka sosial media saja disana sambil Fitri duduk disampingku dan ku pegang tangannya.


Bergantian kami membuka akun media sosial kami dan saling bertukar password dan membahas isi postingan dalam facebook kami. Lalu aku menyenderkan kepalaku padanya, terkadang mencium pipinya berulang kali. Tapi apa yang terjadi, tidak sedikit pun kemaluan ku bangun dan bereaksi dengan keadaan itu. Lalu Fitri izin ke toilet, saat itulah aku membuka link vidio porno berharap kemaluan ku bangun karena melihat pria dalam film tersebut. Saat kemaluan ku sudah bangun, aku mencoba mempertahankannya untuk tetap seperti itu dan menyelipkan tab itu di halaman layar tanpa aku tutup. Ketika Fitri kembali duduk disampingku, tangan ku mencoba merangkulnya kembali dan mengarah perlahan ke arah kemaluannya sambil pura-pura aku salah menekan halaman dan membuka kembali Vidio porno itu. Namun ternyata Fitri tidak menyukai hal itu, tangan ku disingkirkannya dari paha itu dan dia melihat kearah ku. Seketika aku sadar dan menutup halaman itu lalu meminta maaf kepadanya karena hal itu.


"Sorry dek, kamu marah kepada ku?" aku mencoba memberi jarak kepadanya agar dia merasa nyaman kembali. Lalu Fitri dengan lembut bertanya kepadaku,"Masih berapa lama lagi kita disani kak? karena jika masih lama saya akan pulang sendiri saja tugas dari pak Widodo masih belum aku kerjakan." Aku menjadi gagu saat itu karena sikap lembut wanita itu, lalu aku menyeleseikan bermain hari itu dan pulang bersamanya.

Setelah kejadian hari itu aku bingung saat bertemu dengan Fitri baik di luar atau di sekolah. Tanpa kata putus dari ku atau pun dari dirinya, kami mulai mengurangi kebersamaan kami berdua dan setelah cukup lama berpisah, berita kalau aku sudah memiliki pacar sampai ke Fitri. Saat itu aku tidak berpacaran dengan Lisa, hanya Lisa dan teman-temannya yang menganggap respon dan kebaikan ku pada Lisa menandakan aku suka dan mulai berpacaran dengan Lisa. Karena kejadian itu Fitri mencoba mencari tahu langsung padaku, walaupun aku jelaskan aku tidak berpacaran dengan Lisa, dia tetap mengatakan perkataan bijak menurut nya.

Fitri berkata, "Kakak harus menjaga Lisa dan tidak boleh sembarang dalam melakukan hal-hal bodoh nantinya. Karena lisa sepertinya adalah wanita baik." begitulah kalimat yang keluar dari Fitri, entah dari mana dia kenal Lisa. Padahal Lisa adalah kakak tingkatnya serta mereka pun tidak saling mengenal sepengetahuan ku saat itu.

Aku merasa diri ini cukup unik di ciptakan oleh tuhan, aku berpikir seharusnya aku bersyukur karena ternyata aku memiliki banyak kisah cinta dengan wanita. Masa SMA ku cukup terselamatkan dengan cerita-cerita cinta dengan Fitri dan juga Lisa yang tidak sempat aku mulai sama sekali. Hingga akhirnya, saat naik ke kelas tiga SMA mama menyuruh ku pindah ke kota Palembang karena disana aku bisa menjadi alasan untuk mempererat hubungan keluarga mama dengan Tante yang sudah lama tidak bertemu. Walaupun aku menolak saat itu, rasanya hanya akan menyakiti orang tua ku saja. Sudah aku jelaskan bahwa sangat tanggung memindahkan ku kesana karena sebentar lagi akan kelulusan, mama tetap saja berharap aku mau untuk pindah kesana.

Memberikan saran bahwa yang lebih baik pindah saat itu adalah Raffa, mama malah merasa khawatir karena saat itu Raffa sudah sangat sulit di kontrol. Raffa telah memberikan kesan buruk pada orang tua dan lingkungan disekitarnya, dia sering "ngaibon" (sebuah lem yang dijadikan beberapa orang alat untuk berfantasi karena efek sampingnya) dan juga mencuri. Mama takut jika dipindahkan jauh dari mereka hanya akan mencoreng nama baik keluarga saja dan memperburuk hubungan baik yang ingin dijalin mama dengan keluarga mama di Palembang. Mama mencoba terus menjelaskan hal itu kepadaku, terkadang mama seakan memohon kepada ku untuk hal itu. Dia merasa terlanjur bilang kalau dia akan menitipkan anaknya kesana serta meminta bantuan untuk memberikan pendidikan yang lebih baik kepada anaknya. Akhirnya aku tidak dapat menolak hal itu terjadi, pada kenaikan kelas tiga aku menyelesaikan SMA ku dengan ijasah SMA Palembang.
Share:

Inilah kisah terbaik yang ku miliki bersama ADITYA

Sebelumnya aku mungkin telah begitu sering membahas dan memperkenalkan pria ini.


Yang ku tulis mungkin selalu tentang ke sempurnaan dari seorang yang memberikan setahun hidupnya pada ku. menghancurkan karirnya hanya karena rasa kecewa kepada ku saat itu.



Namun jangan khawatir, jika ada yang berniat untuk menghapuskan ingatan ku padanya lakukanlah. karena kenyataanya Aditya telah hilang dan tidak dapat aku temukan. semua hal yang dahulu dapat menghubungkan ku sudah hilang, dari FB, nomor telpon bahkan tempat kerja. Ketika aku bekerja di Restoran, aku sangat dekat dengan HRD ku. Mulai dari bekerja di Billiard sampai akhirnya aku di resto, aku sudah mulai terbuka dengan penyimpangan ku pada teman kerja. Tapi keterbukaan ku masih terbatas, aku hanya terbuka di tempat kerja selain itu aku masih seorang yang suka bersembunyi.


Suatu hari HRD ku memberikan aku saran tentang masalah ku dengan Aditya. Hari itu aku sedang galau tingkat dewa, karena aku berkata padanya mungkin aku tidak bisa memiliki pasangan karena aku berharap pasangan ku seperti Aditya.

Lalu dia berkata padaku "kamu ingat dengan Rio (seorang marketing di resto) sekarang dia bekerja di hotel tempat mantan mu. kamu bisa meminta bantuannya untuk mencarikan informasih tentang mantan mu."


Ide HRD ku ini sangat benar, lalu dengan ceroboh aku mencoba mengkontak Rio dengan awalnya say hello, karena kami sudah lama tidak saling berkomunikasi. Tapi baiknya saat itu ternyata Rio merespon chat ku dalam beberapa hari, dan di dalam beberapa hari itu akhirnya aku mulai berpikir.


Sebenarnya aku tidak perlu mencarinya (Aditya), karena yang terjadi! dia yang meninggalkan ku dan menghilang. Aku yang tidak bisa menghubunginya, tapi dia bisa melakukan hal itu jika dia sudah memaafkan ku. Hal lain menambah keraguan ku untuk mencarinya, aku berpikir bahwa kejadian itu sudah terjadi tiga tahun lalu. Saat itu Aditya sangat cepat menghilang dari hidupku dan pekerjaannya. Jika Aditya memilih resign dari tempat kerjanya apakah mungkin dalam dua minggu dia melakukan pengunduran diri secara baik disana dan ada berapa orang yang mengenang dan tahu tentangnya. Lalu aku berpikir bahwa aku harus berhenti dan menyerahkan semuanya pada waktu, seperti yang pernah aku lakukan sebelumnya terhadap semua jalan hidupku.


Maka semua hal ini membuat aku berhenti untuk mencarinya. Aku hanya berpikir selama aku masih sendiri dan Aditya ternyata akan mencariku dan memaafkan ku, maka aku akan memilihnya untuk menjadikan ku keluar dari masalah penyimpangan ini.




Mari mulai bercerita tentang perjalanan cinta ku bersama Aditya.



Sebelumnya aku telah menulis kisah cinta bersama beberapa wanita. Kali ini mungkin adalah kesempatan ku untuk menceritakan hal-hal yang sebenarnya. Sebuah perjalan kisah cinta yang sempat aku miliki, yang kadang hancur oleh ku dan terkadang oleh orang lain. Rasanya saat akan menulis ini aku masih ragu, aku berpikir orang lain akan tahu siapa aku sebenarnya tapi terkadang terus menulis membuat aku sadar bahwa akun yang aku gunakan tidak mungkin mengungkapkan jati diri ku.


         Mari aku aku ceritakan kisah cinta terbaik milik ku bersama seorang pria bernama Aditya Pratama. Seorang pria yang bekerja di sebuah hotel di Palembang lalu pindah ke Jogja karena mutasi kerja. Dengan tuntutan pekerjaannya, Aditya adalah suka gym dan memiliki stylis yang terlihat seperti metroseksual. Pertama kali aku bertemu Aditya sudah aku tulis di lembaran bersama Hardian, dimana hari itu aku sedang merayakan kelulusan ku ketika SMA. Pertemuan itu berjalan hanya dengan makan dan mengobrol lalu dia pulang dan kami tidak bisa bertemu lagi karena aku sudah balik ke Prabumulih. Hubungan kami terus berjalan, Aditya saat itu cukup intens melakukan komunikasi dengan ku melalui sosial media atau nomor telepon ku. Aditya adalah pria yang sudah terbuka dengan kehidupan gay nya, dia berasal dari Bandung namun semua keluarga sudah menetap di Palembang. Pada pertemuan ku dengannya di SMA, Aditya sepertinya berusia 25 tahun dengan tampang bertubuh atletis dan rambut klimis dia merupakan kesempurnaan bagi seorang gay.

Sedikit yang dapat aku tahu darinya kenapa dia ingin berhubungan serius dengan ku. Dia suka anak muda namun yang maskulin dan nilai terbaik sebenarnya adalah saya memiliki penampilan seperti orang yang pernah membuat dia jatuh cinta lalu meninggalkannya menikah hingga dia menjadi seperti saat ini. Pria tersebut berasal dari keluarga yang terpandang dengan kepercayaan agama yang kuat hingga membuat pria itu menikah dan sekarang telah pindah ke Malaysia. Dalam perjalanannya Aditya berkata dia telah mencoba banyak hal, bertemu para pria lalu di permainkan, atau bertemu lalu di tinggalkan dengan alasan yang sama. Namun dengan ku sedikit berbeda, rasa cuek saat bertemu dengannya dan tidak ada niat untuk mendekatinya menurut dia menjadikan hal itu memiliki nilai tersendiri.

Padahal semua itu ada banyak hal yang aku pikirkan, aku merasa tahu diri dengan keadaan ku, aku juga menyadari bahwa aku akan balik ke kota ku, dan hal paling utama aku masih tidak berpikir tentang hubungan yang panjang bersama pria. Keluarga Aditya telah tahu tentang penyimpangan Aditya, maka karena hal inilah kisah cinta kami harus bermasalah, karena ternyata aku masih tidak siap dan membuat Aditya meninggalkan aku.



Hari itu aku mengikuti tes SNMPTN untuk masuk kuliah, aku memilih pada kampus-kampus ternama seperti ITB dan IPB. Semenjak Aditya memberi tahu dia pindah ke Jogja aku tidak pernah berpikir untuk berhubungan lagi dengan pria itu. Lalu tiba-tiba hasil ujian keluar dimana setiap jurusan yang aku pilih tidak ada yang lolos. Padahal aku berpikir jika aku bisa masuk perguruan tinggi negeri aku akan berusaha mendapatkan beasiswa dan uang yang sudah aku kumpulkan akan menjadi pegangan sehari-hari ku. Kekecewaan hari itu aku tulis di beranda FB ku, dengan sebuah do’a konyol seperti anak muda yang biasa galau. Ternyata Aditya selama ini terus memperhatikan diriku dan dia berkomentar di postingan itu. Tapi karena tidak ada niat apa pun dan juga aku saat itu hidup ku banyak masalah serta masih sibuk bekerja, jadi tidak tahu dia merespon postingan itu.

Tiba-tiba saat sedang istirahat di rumah telpon ku berbunyi, di layar hp tertulis nama penipu yang membuat aku sebentar berpikir lalu sadar bahwa itu Aditya. Mulailah percakapan kami dengan bertanya kabar dan dia langsung membahas tentang niat ku untuk kuliah.

Aditya bertanya,"bagaimana kabar mu Kal, aku membaca status di FB mu kemarin dan sepertinya kamu memiliki masalah. Bolehkah aku mendengar cerita mu, kebetulan aku sedang tidak memiliki teman mengobrol malam ini."

Aku mencoba menjelaskan kepada Aditya, "aku baik-baik saja bang namun sepertinya aku tidak mungkin melanjutkan kuliahku. Biaya kuliah yang mahal dengan tabungan ku yang hanya terkumpul enam juta lebih tidak akan membantu ku bertahan jika aku memilih kuliah di swasta." tidak ada terpikir apapun saat itu kecuali rasa senang ada teman untuk berbicara masalah itu karena masa kuliah memang aku tutupi dari orang tua ku.

Obrolan malam itu menjadi cukup panjang, lalu hal yang menggangu Aditya adalah saat aku berkata padanya sepertinya aku akan menyerah.

Saat kami terus bicara, aku memcoba mengajaknya untuk tidak serius dan berkata, "sepertinya aku sudah menyerah bang, akan membatalkan niat ku untuk kuliah, lalu mengikuti keinginan orang tua ku yang terus meminta ku untuk menikah. serpertinya itu akan menyenangkan bang." aku tertawa dalam telpon itu.

Lalu Aditya berkata mungkin dia akan mendapatkan cara agar aku bisa kuliah, lalu pembicara kami berlanjut pada rasa penasaran Aditya terhadap hubungan ku bersama laki-laki. Aku menceritakan semuanya pada dia termasuk hubungan ku bersama Akbar, mungkin saat itu dia berpikir aku sangat hina. Tapi pembicaraan kami terus berlanjut, tidak ada yang aku tutupi tentang apapun yang terjadi antara aku dan Akbar. Aku berpikir saat itu bahwa Aditya hanyalah orang yang sudah jauh meninggalkan aku, membicarakan hubungan yang kamu simpan sendiri secara terbuka dan lepas kepada orang lain adalah kepuasan bagi ku malam itu tanpa memikirkan perasaan Aditya. Hingga kami bersama, barulah Aditya bercerita tentang marah dan bencinya dia pada ku saat mendengar kisah di awal antara aku dengan Akbar. Namun semakin jauh kami bercerita barulah dia dapat berpikir baik, kedekatan ku dengan Akbar memberikan nilai baik. Dengan Akbar aku bisa memutuskan menjauhi segala macam sosial media agar tidak merusak diri, lalu mulai lebih taat dengan agama ku serta yang menjadi harapan besar Aditya adalah karena aku mengatakan bahwa Akbar seorang pria yang akan menikah. Aditya mengatakan, kalau saat itu dia merasa tidak perlu cemburu ataupun takut aku akan terus bersama dengan Akbar.

Hingga akhirnya Aditya memutuskan untuk menanyakan pada ku, apa aku masih ingin melanjutkan kuliah jika memiliki cara untuk menyelesaikan hal itu. Lalu dengan kalimat-kalimat yang begitu menjanjikan, aku menjawab iya pada nya karena aku berpikir malam itu apakah aku benar-benar siap untuk menikah dengan seorang wanita saat aku tidak memiliki kemampuan dalam membangkitkan hasrat terhadap wanita. Pengalaman seks ku bersama wanita pertama kali dan terakhir kalinya bersama Fitri ketikan masih SMA. Hubungan itu menjadi buruk, dimana aku menyadari aku tidak bisa berhubungan dengan wanita dan itulah yang membuatku ragu untuk menikah.


Setelah percakapan malam itu ternyata dia terus memikirkan hal terbaik apa agar aku bisa kuliah dan tidak jadi menikah dengan wanita. Sebagai seorang yang beriman, aku berpikiran apa yang Aditya lalukan dengan mencoba menghalangi ku menikah adalah hal yang sangat egois serta terlalu memikirkan diri sendiri. Tapi rasanya sampai saat ini aku berpikir hal itu terasa benar, akan percuma bagiku jika menikah dengan wanita tapi tidak tahu cara memperlakukannya dan jika aku bisa menidurinya lalu mempunyai anak akan lebih sulit bagi ketika alam bawah sadar ini memanggil ku untuk berhubungan dengan pria dan aku tidak dapat menolaknya. Lalu hal terburuk adalah jika aku menikah dan pada suatu masa keluarga dan Istri tahu atas penyimpangan ku, semua itu akan menyakitkan bagi setiap orang. 


Aku dan Aditya berbeda agama, Aditya adalah seorang Kristiani yang taat.

Lalu hari berikutnya Aditya kembali menghubungi ku, disaat permasalahan keluarga sudah menumpuk dalam kehidupan ku. Kedua orang tua ku memutuskan akan bercerai, Raffa yang terus-menerus membuat nama keluarga menjadi buruk. Permasalahan itu membengkak dalam kepalaku, membuat ku berpikir untuk meninggalkan mereka walaupun bukan bersama Aditya. Tapi hari itu Aditya memberi harapan, dia menyuruh datang kepadanya untuk tinggal bersama dan melanjutkan cita-cita ku. Aku terus menerus bertanya padanya tentang apa yang akan kami lakukan, karena pergi begitu jauh dengan bermodalkan harapan sangat tidak realistis untuk aku lakukan. Aditya meyakinkan ku bahwa aku tidak perlu khawatir tentang apapun, semua hal akan menjadi tanggung jawabnya. Uang yang aku punya bisa aku simpan sendiri, jadi tidak perlu aku takut bahwa di suatu hari dia akan meninggalkan aku.

Dengan kalimat-kalimat itu, aku yang tidak memiliki pilihan meminta waktu pada Aditya untuk menyiapkan semuanya dan mencari cara untuk menjelaskan kepada orang tua ku bahwa aku akan baik saja jika memutuskan untuk kuliah di Jogja. Semua cerita sudah aku persiapkan dengan baik, untuk mendukung cerita itu aku butuh sahabat ku Satria, lalu meyakinkanya bahwa aku memiliki alasan yang tepat pergi ke Jogja. Akhirnya Satria memberi tahu ku bahwa ada seorang teman bernama Wahyu yang kuliah di Jogja dan wahyu pun dahulu cukup dekat dengan ku.

Maka cerita ini pun dimulai, aku pergi ke Jogja dan di terima oleh Wahyu hari itu waktu pertama datang ke kota itu. Aku meminta Aditya untuk bersabar karena aku butuh Wahyu percaya bahwa aku datang hanya untuk kuliah sekaligus dapat meyakinkan Satria lalu Satria akan membantu ku meyakinkan orang tuaku bahwa aku di Jogja baik-baik saja. Pada awalnya semua berjalan seperti apa yang aku harapkan, hingga Wahyu mengajak ku mencari kosan agar aku lebih dekat dengan kampus. Wahyu yang sudah semester akhir tidak bisa membantu ku untuk terus mengantarkan kuliah atau mengizinkan aku tinggal di kosnya lebih lama. Hari itu aku bingung, lalu aku menelpon Aditya tentang masalah ini untuk mencari penyelesaian bersama. Tapi aku tidak tahu jika hari itu dia memiliki banyak masalah di hotel, Aditya marah dan menyerahkan semuanya pada ku.

Aku berkata padanya di dalam telpon, "bagaimana bang? aku tidak bisa menolak hal ini, aku tidak memiliki alasan agar teman ku ini percaya bahwa aku memiliki tempat lain untuk di tuju."

Aditya menjawab dengan marah, "lalu buat apa kamu bertanya jika jawabannya kamu tetap menyewa kos? aku telah menyiapkan semuanya disini bersama ku. lau apa gunanya. bagaimana aku akan memikirkan membayar kos mu itu, Kal?"

"Aku akan membayarnya sendiri bang, aku masih memiliki tabungan. aku hanya berharap abang mengerti bahwa aku sangat takut tentang rasa penasaran temanku ini dan akan membuat orang tua ku tahu alasan ku ke Jogja selain kuliah." Aku mendengar tarikan napas panjang dalam telpon itu.

Dia merasa semuanya salah ku karena masih bersembunyi menutupi penyimpangan ku, dia sudah menyiapkan tempat tinggal yang dekat dengan kantornya dengan halaman rumah yang indah agar aku dan dia dapat bahagia disana. Lalu tanpa aku mengerti dan sadar ternyata aku menangis, hal itu mungkin karena aku merasa terharu atau merasa kaget dengan nada kerasa darinya. Sesaat telpon kami berhenti aku menoleh kesekitar ku dan ternyata Wahyu melihat ku menangis, di wajah Wahyu terlihat raut seseorang yang merasa aneh serta penuh tanya kepada ku. Aku kembali ke kamar dengan mata sembab ku, Wahyu terus bertanya dan akhirnya aku harus membuat cerita tentang masalah orang tua ku kepadanya. Saat itu rasanya aku tidak berbohong, karena permasalahan keluarga ku semakin besar antara ayah dan mama yang dimana ayah tidak ingin bercerai. Wahyu yang sebelumnya sudah tahu cerita itu dari Satria langsung percaya dengan cerita ku dan memberikan banyak masukan positif kepada ku. Karena tidak ingin ada yang curiga dan rasa terima kasih ku pada Wahyu yang telah membantu ku sejauh itu, aku mengiyakan untuk menerima kos itu dan membayar kos itu dengan uang pribadi ku. Namun kosan itu menarik banyak uang tabunganku karena ternyata tempat itu harus dibayar dalam satu tahun. Setelah persiapan selesai aku bertemu dengan Aditya malam itu, dia minta maaf kepada ku atas apa yang di lakukan sebelumnya. Aku memaafkannya dan menjelaskan semuanya, lalu Aditya berkata akan mengikuti semua yang sudah aku rencanakan asalkan itu akan baik bagiku dengan dirinya.



Kisah cintaku bersama Aditya dimulai dalam kota yang selalu orang sebut dengan kota sejuta kenangan.

Hanya berjalan mungkin dua Minggu kebiasaan Wahyu menemui ku di kos, hal itu di lakukannya karena rasa tanggung jawabnya terhadap ku. Aku yang menurut orang-orang terdekat ku tidak memiliki siapapun di Jogja kecuali Wahyu menjadikan Wahyu seperti bertanggung jawab penuh pada ku. Namun kesibukan di semester akhir membuat dia makin menghilang dan aku pun meyakinkan dia bahwa aku baik-baik saja. Kamar 2x2,5 centimeter senilai 3.600.000 yang aku terpaksa bayar itu hanya berisi kasur tipis, jam dinding, rice cooker dan koper penuh pakaian yang aku bawah dari kampung ku. Tapi itu akan menjadi hal terbaik nantinya ketika keputusan ku dan Aditya untuk berpisah karena ternyata aku bisa menyimpan barang itu di tempat teman-teman ku. Namun jangan membahas perpisahan dahulu, ini harusnya tulisan untuk sebuah kisah cinta seorang pria dengan pria yang sangat bahagia sehingga sampai detik ini, pria ini berharap seseorang yang sempurna seperti Aditya akan datang kembali pada hidupnya.


Aku dan Aditya seperti merasa bebas dalam hidup kami ketika tinggal di sebuah kota yang jauh dari orang-orang yang aku kenal. Kos itu hanya aku gunakan paling lama lima jam dalam sehari. Tapi terkadang aku harus menginap disana jika teman-teman kuliah tiba-tiba mengajak mengerjakan tugas di kos ku. Aditya menjadi pasangan terbaik dalam hidupku, dia mampu menerima posisinya untuk terus berada di persembunyian hanya agar aku tetap aman. Aku yang berpikir akan mulai tidak mau perduli tentang siapapun jika akhirnya tahu aku gay di Jogja, akhirnya harus menahan itu kembali karena sepupu Wahyu ternyata kuliah di jurusan yang sama dan satu angkatan dengan ku. Sebuah image tentang seorang pria yang pintar, cukup tampan dan dingin sudah terbentuk pada setiap orang yang ada di angkatan ku. Niat untuk tidak membuat Aditya serba salah dengan terus bersembunyi aku batalkan karena aku tidak ingin orang tua ku mendengar kabar buruk apapun tentang ku.

Lalu beruntungnya aku memiliki Aditya, ketika semester pertama aku memiliki jadwal yang cukup padat hingga harus pulang ke kos untuk menunggu Aditya menjemput ku ketika pulang kerja. Atau terkadang aku akan memberi kabar jika teman-teman akan mengerjakan tugas di kos ku karena posisi kos yang sangat dekat dengan kampus dan memiliki ruang tamu yang cukup besar untuk dapat menerima sepuluh orang yang berkunjung. Kisah ini sungguh baik bagi ku, anda akan merasa bosan karena kalimat ini akan terus berulang aku tulis pada bagian ini. Terkadang Aditya memberikan motornya kepada ku agar bisa kerumah tanpa harus menunggu. Atau jika aku mulai menulis postingan di sosial media yang mengatakan bosan, tanpa aku harus minta Aditya memesankan taksi untuk ku dan mengantar ke hotel. Baik aku atau pun Aditya tidak menutupi kebahagiaan kami di dalam hotel tersebut. Kadang memang pada posisi ku, sering sekali aku merasa canggung ketika seseorang melihat serius atau aneh kepada kami. Tapi Aditya selalu ada untuk ku, terkadang dia akan menunjukkan ketegasannya atau terkadang dia tahu untuk menahan diri dan menjaga jarak pada ku.




Mari aku gambarkan rumah indah itu pada kalian,

Berada sekitar dua kilometer dari hotel dan berada di kompleks perumahan yang cukup tenang namun masih asri menjadikan semuanya seakan sempurna. Dengan dua kamar tidur, ruang tamu dan dapur yang sudah lengkap di rancangnya seakan kami adalah sepasang pria gay dalam sebuah film romantis yang cukup sering aku tonton belakangan ini. Hal yang tidak kalah indahnya dari semua itu adalah taman kecil di depan rumah dengan kolam ikan yang menjadikan kami tidak tinggal berdua saja. Hari itu aku tidur dirumah karena aku sedang melaksanakan ujian tengah semester dan ada hari dimana jadwal ku kosong. Mungkin aku terlihat sangat lelah hari itu bagi Aditya, kebiasaan Aditya yang sering membangunkan ku untuk sholat subuh hari itu tidak dilakukannya. Aku yang bangun pukul 09:00 pagi mendapati rumah sudah sepi, di meja makan sudah dingin nasi goreng yang dimasak oleh Aditya.


Di samping nasi itu terletak kertas dengan pesan didalamnya. Aditya menulis kata maaf karena tidak tega membangunkan aku, dia mengucapkan selamat istirahat dan berliburan dirumah, dia mengingatkan aku jika nasinya sudah dingin aku bisa menghangatkannya kembali, dia bilang jika tidak terlalu sibuk dia akan balik untuk makan siang bersama dirumah atau nanti kita keluar. Semua kisah bersamanya begitu sangat menyenangkan, saat menulis kisah ini aku rasanya ingin kembali pada masa itu merubah sebuah kesalahan saat itu.


Waktu cukup berlalu begitu cepat, Aditya tidak pulang ke rumah dan juga tidak memberi kabar. Karena jarak hotel dengan rumah cukup dekat aku berpikir untuk berjalan kaki dan memberikannya kejutan atas kedatangan ku. Perjalan dari rumah ke hotel tidaklah membosankan dan melelahkan, pohon-pohon yang rindang sepanjang jalan membuat ku tidak begitu lelah. Sesaat aku berhenti disebuah angkringan disamping XXI diseberang hotel tempat Aditya berkerja, disana aku membeli es jeruk dan melanjutkan berjalan. Setiba disana aku langsung bertanya dengan orang yang berada di receptionis namun ternyata Aditya sedang meeting dengan orang dari hotel pusat yang mereka bilang sudah cukup lama. Aku merasa ada banyak hal yang tidak aku ketahui tentang sulitnya dia dengan pekerjaannya selama ini namun Aditya tidak pernah membagikan kesulitan itu bersama ku. Lalu wanita itu menyuruh menunggu diruangan Aditya saja, mereka yang tahu akan hubungan kami terkadang sangat terbuka dan baik kepada ku. Selama menunggu tiba-tiba seseorang karyawan masuk mengantarkan makanan ke dalam kantor.

Lalu aku bertanya, "untuk siapa makanan itu?" pria itu meletaknya di depan ku. Ternyata seseorang sudah menyampaikan ke Aditya kedatangan ku, lalu dia menyuruh bagian dapur untuk membuatkan ku makan siang selagi menunggu dia selesai meeting.


Hubungan sesempurna ini bahkan seperti mimpi bagiku, dan jika aku sadar itu nyata hanya membuat aku merasa bersalah telah menolak niat baik pria itu.


Perjalan ini terus berlangsung begitu baik, akhir pekan ku selalu aku berikan pada Aditya. Namun untuk membuat hidupku terlihat normal bagi setiap orang terutama sepupu wahyu, aku mengikuti banyak kegiatan organisasi seperti jurnalistik dan himpunan mahasiswa. Lalu kegiatan inilah yang terkadang menyita waktuku dan membuat Aditya merasa sedikit terganggu. Terkadang dia langsung mengatakan ketidak setujuanya kepada pilihan ku untuk menyibukkan diri. Tapi hubungan kami di mulai dengan komunikasi yang baik, maka selalu setiap hal kami bicarakan bersama tentang maksud dan tujuannya serta manfaatnya bagi ku atau bagi kami. Inilah yang menjadikan ku tidak dapat berpikir buruk pada Aditya, walaupun suatu hari nanti ucapannya akan sangat menyakiti ku.

Kesibukan ku mulai aku kurangi terutama hal yang aku anggap tidak menguntungkan bagi ku. Jika hari libur kami makan diluar dan menghabiskan waktu kami lebih banyak dengan jalan-jalan di jogja. Maka hari biasa kami akan habiskan di rumah dengan menonton TV bersama, memasak, membersihkan rumah atau bermain PlayStation. Hal seperti itulah yang kami jalani selama satu tahun bersama dengan tidak menemukan masalah apapun sebelumnya. Hari dimana Aditya demam, aku yang memasakan sayur daun katu nama masakan itu, karena tidak banyak masakan yang aku bisa saat itu hanya itu aku buat agar dia bisa hangat. Tubuh besar, dengan badan atletis dan wajah yang sempurna itu tidak dapat aku hilangkan dalam hidupku. Pada saat sakit itu dia begitu manja pada ku, rasanya aku menyadari sesuatu hari itu bahwa setiap pria gay pasti memiliki sisi lembut. Aditya yang demam menyadar di tubuhku, rasanya sedikit aneh karena dalam kehidupan bersamanya aku sering memposisikan diriku seperti anak kecil yang selalu butuh perhatian. Aku sangat bahagia dan aku rasa kebahagiaan itu juga yang di rasakan Aditya saat bersamaku selama itu.

Dalam setiap perjalanan ku bersama Aditya yang terlalu tertutup dan disembunyikan dari orang banyak membuat ku tidak berani memiliki photo-photo yang berhubungan dengan dia. Hal ini membuat ku menyalahkan diriku, karena terlalu takutnya dengan pemikiran orang yang akan bertanya siapa dia, kenapa bisa aku berkenalan dan lainnya, membuat aku ragu hingga tidak memiliki kenangan yang banyak dengannya.

Hingga hari itu kami pulang dari hotel kerumah dengan jalan kaki, pukul lima sore kurang sedikit kami meninggalkan hotel. Hari itu adalah hari-hari ketika sudah masuk bulan puasa ramadhan, dan kami mulai membiasakan diri untuk lebih sering bersama. Lalu dijalan kami bertemu dengan ibu-ibu yang sedang mengasuh anaknya yang mungkin berusia tiga tahun. Anak itu begitu lucu, Aditya yang begitu ramah dan terlihat tidak berbahaya mendekati anak itu dan orang tuanya. Lalu sambil mulai bercanda dengan anak itu dia mengajak ngobrol ibunya dan terkadang tertawa kearah ku. Dia sangat bahagia, dia begitu mudah akrab dengan orang lain dan itu juga berlaku pada anak kecil. Aku yang tidak ingin mengganggu kebahagiaan itu hanya tersenyum dan memperhatikan mereka hingga Aditya mengajak ku untuk pulang. Di jalan dia terus membahas anak kecil itu, dia merasa senang dapat bermain walau pun hanya sebentar. 

Dia menanyakan pendapat ku, "bukannya anak tadi lucu, Kal? mungkin akan menyenangkan jika kita bisa mengadobsi seorang anak." aku tersenyum dan kaget mendengar hal itu.

Aku yang pada dasarnya masih berpikir apakah hubungan yang kami lakukan benar atau salah menjawab seadanya. "Benar bang, itu sangat menyenangkan. tapi alangkah baiknya jika kita memiliki seorang anak dari darah daging kita sendiri. bukannya sperma kita masih bagus!" Aditya diam dan merasa tidak ingin membahas itu lagi, saat itu aku tidak berniat apapun selain mengatakan yang aku bisa.

Dalam kediamannya aku menambahkan banyak cerita yang menjelaskan bahwa aku memiliki saudara yang banyak dan semua sudah menikah. Aku menegaskan bahwa hampir semua anak mereka aku yang merawatnya karena begitu dekatnya aku dengan saudara-saudara ku. Ucapan ku terus berlanjut tanpa aku pikirkan akan membuat Aditya menghentikan pembicaraan itu.

Namun aku terus bicara dan mengatakan jika aku sangat berharap segera memiliki anak yang lucu seperti anak tadi, bermain bersama, merawatnya,  dan memastikan dia tidur dimalam hari sebagai seorang ayah. Aditya yang sadar bahwa pembicaraan ku akan berujung kemana menghentikan aku bicara karena kami sudah di dekat rumah dan aku akan segera berbuka puasa. Hari itu aku pikir Aditya akan tetap menjadi seseorang yang dewasa dan dapat aku andalkan dalam hidupku sampai akhir nanti.

Hingga malam dimana aku tidur bersamanya, kami melakukan hubungan seksual seperti biasanya. Aku tidak pernah meminta Aditya untuk menjadi bottom seutuhnya, tapi dia sangat tahu bahwa aku tidak akan pernah menjadi seorang bottom. Kami melakukan hubungan seks itu cukup lama, hingga punya ku telah selesai lalu aku harus tetap terlihat aktif karena harus membantu dia menyelesaikan urusannya dengan kemaluan miliknya. Setelah setiap orang telah mendapatkan kepuasan masing-masing, Aditya membuka sebuah obrolan malam itu yang menjadi masalah kami. Pada waktu itu hari raya idul Fitri sudah semakin dekat, orang tua Aditya yang salah satunya adalah muslim membuat dia berpikir akan pulang ke Palembang bersama ku.

Awalnya pembicaraan itu masih biasa saja, "Lebaran nanti kita pulang ke Palembang ya?" sambil mengelus kepala ku yang masih berada diatas dadanya.

Malam itu aku berpikir ide dia sangatlah bagus, aku yang ingin sekali melihat keadaan orang tuaku yang baru rujuk kembali sangat bersemangat dengan ide nya. Namun Aditya melewati batasnya, dia ingin sekali pulang dan mengenalkan ku pada keluarganya. Sampai batas itu aku masih tidak memiliki masalah, Aditya yang dari awal sudah bilang jika semua orang terdekatnya telah tahu penyimpangannya pada pria membuatku tidak terlalu khawatir. Tapi Aditya malam itu juga meminta ku saat pulang nantinya akan mengajaknya untuk kerumah ku dan memperkenalkan pada keluargaku bahwa kami sebagai pasangan gay.

"hubungan kita sudah hampir masuk satu tahun Kal, aku merasa kita tidak perlu lama-lama bersembunyi dari keluarga mu. Bukan kah akan sangat menyakitkan bagi mereka jika sampai tahu yang sebenarnya dari orang lain? dan kamu juga bukannya bahagia bersama ku?" Aku mengangkat kepala ku dari tubuhnya dan duduk. Aditya menatap ku yang saat itu akan mengatakan sesuatu yang sepertinya mungkin dia sudah siap atau tidak sama sekali.

Malam itu aku merasa kami bicara seperti biasanya, aku tidak menggunakan kata kasar hanya saja aku bilang, "untuk pulang dan bertemu keluarga mu dan memberi tahu mereka, aku  masih bisa melakukannya bang tapi untuk bagian ku, aku rasa itu tidak mungkin. itu akan terasa sangat menyakitkan bagi siapa pun."

Aku menegaskan pada Aditya bahwa itu benar-benar sangat mustahil, lalu Aditya bangun dan berada didepan wajah ku. Dia menanyakan hal itu berulang kali, seakan-akan dia berharap bahwa aku akan merubah pendirian ku dan menjawab iya bahwa aku akan terbuka dengan semua ini.

Dia berkata, "akan sampaikan kapan kamu sembunyi, apakah mungkin kamu dapat sembunyi terus dari apa yang sudah kamu buat selama ini dengan bersama pria-pria lain! jangan terlalu bodoh Kal, tidak ada yang bisa terus bersembunyi."

Malam itu Aditya terlalu mendorong ku kembali kepada rasional ku, aku menjelaskan padanya bahwa tidak mungkin aku menikah dengan seorang pria karena tidak akan memberikan ku keturunan. Aku mengingatkan Aditya kejadian sebelumnya, aku bilang kepadanya jika hal ini dia bahas karena kejadian anak kecil itu maka seharusnya hari itu kamu sudah tahu jawaban ku.

Aditya marah padaku dan dia mengatakan perkataan menyakitkan, "kamu tidak tahu diri dan tidak pernah bersyukur. kamu telah terlalu jauh memanfaatkan hidupku untuk ke egoisan mu saja, apakah kamu berpikir aku seperti pria-pria yang kamu temui yang membayar kamu lalu meminta untuk dipenuhi napsunya saja? kalau kamu berpikir seperti itu, kamu tidak lebih dari apapun, masih banyak anak muda yang tampan dan memiliki kemaluan yang besar. tidak ada yang harus kamu banggakan didepan ku, aku menyukai mu karena kamu mengingatkan ku pada seseorang walaupun ternyata kebaikan mu dan pendirian mu yang membuat aku tertarik padamu tapi tidak melebihi apapun." Bagitulah kurang dan lebih kemarahan pria yang merasa aku hanya memanfaatkannya tanpa memiliki rasa untuk bersama. Lalu dalam kekesalan ku dan kekecewaan ku mendengar ucapan itu, aku pergi ke kamar yang satunya meninggalkan pria itu.


Walaupun aku berusaha keras untuk terlihat seperti pria pada umumnya, yang nakal, pandai atau sebuah perilaku humoris untuk tak terlihat menyimpang tapi aku ketataplah aku. Baik Aditya ataupun aku atau mungkin orang seperti kami sangatlah sensitif, malam itu aku menangis karena ucapan darinya. Banyak hal yang terpikir olehku malam itu, aku merasa menyesal telah mengambil keputusan pergi mendatangi Aditya. Aku merasa takut tentang apa yang akan terjadi padaku jika akhirnya kami berpisah. Aku yang sudah tidak memiliki siapapun di Jogja karena Wahyu sudah selesai kuliah, tidak memiliki tempat bersandar siapapun disana. Uang yang hanya tinggal empat juta dari kiriman terakhir orang tua ku tidak mungkin dapat membantu ku bertahan menyelesaikan pendidikan ku. Tangisan itu semakin panjang malam itu sedangkan kasur dan bantal basah oleh air mata ku, lalu dalam kelelahan karena menangis aku tertidur lalu merasakan Aditya menghapus air mata ku malam itu.

Hingga pagi hari aku menyadari Aditya berangkat kerja tanpa meninggalkan apa pun, dia hanya menulis nomor taksi agar aku bisa pulang ke kos untuk kuliah. Hari kami menjadi dingin setelah itu, waktu semakin dekat dengan hari raya dan aku harus berpikir bahwa aku tidak akan pernah pulang ke rumah. Semenjak itu Aditya tidak pernah berusaha memanggil ku kerumah, lalu terkadang aku memberanikan diriku untuk datang namun dia hanya memperlakukan ku sebagai tamu di rumah itu.



Lalu hari itu datang, aku mencoba memperbaiki hubungan tanpa berpikir untuk mengiyakan ajakan dia. Aku datang ke rumah namun Aditya tidak ada dirumah padahal hari itu adalah hari libur baginya, aku berpikir dia ada di hotel hari itu hingga aku menyusul dia kesana. Semua orang disana seperti nya tidak tahu permasalahan kami, mereka masih menyapa dan memperlakukan ku seperti biasanya. Aku bertanya pada receptionis tentang keberadaan Aditya, lalu mereka memberi tahu bahwa Aditya ada di kamar hotel sedang menemui tamu. Karena penasaran aku bertanya tentang hubungan Aditya dengan tamu itu, karena tidak biasanya Aditya berada di kamar hotel. Mereka menjelaskan bahwa itu adalah temannya, nama kamar pun atas nama Aditya yang memesan. Saat itu aku berpikir baik, aku hanya penasaran untuk memastikan apa yang sedang terjadi sekaligus meminta maaf padanya. Aku menuju kamar itu, lalu saat pintu kamar dibuka seseorang pria sedang memakai handuk membuka pintu kamar.

Aku mulai berpikir buruk, ketika aku mulai bertanya apakah ada Aditya didalam aku mengintip dari pintu dan melihat Aditya sedang duduk di depan jendela dengan memakai celana pendek tanpa baju. Aku merasa hari itu semua sudah berakhir, lalu orang itu menghalangi ku melihat lebih lama dan bertanya tentang hubungan ku dengan Aditya. Aku hanya memberikan namaku padanya lalu pergi meninggalkan kamar itu dan pulang kerumah untuk mengambil tas ku. Sesaat sebelum mencapai gerbang ternyata Aditya ada di belakang ku, lalu di mangajak ku masuk ke rumah dan mulai bertanya. Aditya marah padaku namun yang tidak aku pikirkan bahwa dia mengharapkan sesuatu dari ku hari itu.

Aditya bertanya padaku, "ada masalah apa kamu harus menemuiku di hotel. Dan bagaimana bisa kamu berpikir untuk menyusulku ke kamar tamu sedangkan sebelumnya kamu bilang akan tetap bersembunyi."

Dalam keadaan kecewa dan tidak memiliki harapan akan masa yang sama seperti dulu namun tanpa tuntutan, aku menjawab, "maaf telah membuat abang terganggu, aku hanya akan pamit. sepertinya kita sudah menemukan jawaban dari masalah malam itu."

Aku berpikir selama beberapa hari itu dia bersikap dingin pada ku tidak mungkin dia dapat bertahan lama dan akan memulai hal itu kembali. Pikiran ku terlalu realistis untuk mengatakan bahwa Aditya hanya membutuhkan waktu tanpa keinginan seks yang biasa dia dapatkan. Permasalah kami semakin kompleks, meyakinkan ucapan ku dengan ikut mengatakan bahwa kami harus mengakhiri semua ini dan dia juga bilang apa yang aku liha,t jelas sudah bisa aku mengerti. Dia berkata mulai saat ini tidak perlu lagi aku datang ke rumah ataupun ke hotel karena dia akan mencoba dengan orang baru. Dia menyuruh ku untuk terus bertahan dalam persembunyian ku jika menurut ku itu baik bagi kehidupan ku nantinya.




Kisah cintaku berakhir bersama Aditya hari itu, aku tidak pernah ke rumah atau pun hotel karena aku juga tahu Aditya pasti sedang cuti dan pulang ke Palembang. Aku sendiri melewati hari raya idul Fitri di Jogja tanpa Aditya yang aku pikirkan kisah kami akan berjalan baik dan lama. Nomor Aditya sudah tidak aktif, akun Facebook sudah bersih dari postingan dan aku tidak dapat berteman lagi dengannya. Tidak ada cara bagiku untuk menghubungi Aditya, semua tentang dia hilang yang di akhiri oleh dirinya. Libur kuliah yang singkat saat hari raya menjadi renungan yang sangat dalam bagiku dengan kesendirian ku. Hingga aku berpikir kembali untuk dapat meminta maaf kepadanya dan bisa memulai semuanya karena aku tidak bisa bertahan di Jogja sendiri dengan kuliah ku. Aku seperti menyesali ucapan ku, lalu berniat untuk dapat  bertemu dengannya dan berbicara banyak dan memutuskan untuk menerimanya.

Tapi semua itu sangat konyol, Aditya sudah tidak bekerja di hotel dan rumah itu pun sudah tidak ada yang menghuninya. Aku seperti menyesali diriku, lalu masalah-masalah lain muncul dalam hidupku selama itu. Uang kuliah yang harus ku bayar, uang kos yang sudah mau mulai tahun baru, biaya makan yang sudah menguras uang tabungan ku menjadikan ku semakin gila. Aku tidak memiliki seseorang pun untuk menyandarkan diriku atau pun sekedar mengeluh agar terasa ringan masalah ku. Dalam masa ini aku mengutuk diriku, rasa kecewa yang ku berikan pada seseorang yang tulus kepadaku telah menyakiti ku. Aku meninggalkan kos dan tidur di sebuah ruangan sekretariatan organisasi jurnalistik ku, barang seadanya yang tersimpan di kos mulai aku titipkan ke semua kos teman-teman ku. Untungnya tidak begitu banyak barang yang ku miliki, sehingga beberapa orang teman mau menampung barang ku dan aku mulai tidur di ruang organisasi itu.

Kuliah yang tidak bisa aku lanjutkan karena uang yang ku miliki tinggal seadanya, aku berpikir jika aku membayar kuliah dengan uang itu maka bagaimana aku bisa hidup setelah nya. Akhirnya aku memutuskan untuk cuti kuliah dan berpikir untuk kerja sambil mengumpulkan uang dan kembali kuliah. Tapi ternyata masalah ini terdengar oleh orang tuaku, mereka sangat khawatir kepada ku walupun aku coba jelaskan aku baik-baik saja mereka tetap menyuruh ku untuk pulang ke kampung. Tidak ada pilihan bagiku, aku tidak bisa meyakinkan mereka lagi karena sepupu Wahyu terus memberikan kabar kepadanya dan sampai ke orang tua ku. Akhirnya aku memutuskan untuk pulang namun tetap berpikir untuk kembali meneruskan kuliah yang sudah aku mulai ini. Lalu dalam rasa takut dan cemas ku tentang pikiran orang tua yang anak menikahkan ku, aku sepertinya melakukan kesalahan ketika pulang.





Begitulah kisah ku bersama Aditya Pratama nama samarannya.


Dalam hidup ku Aditya adalah salah tiga dari orang yang aku pikir aku menyukainya atau mereka yang menyukai ku. Selain Aditya, Kisah hubungan ku bersama pria terkadang memulainya dengan kata suka atau cinta adalah BRAMANTYA dan ANGGA.
dua orang ingin adalah bagian kisah baik namun aku harus menyakiti orang-orang ini kembali karena ke egoisan ku. Namun jika boleh berprasangka, mungkin aku lah yang tersakiti oleh kisah-kisah itu.
Share:

Aku Pria, begitulah yang mungkin ingin Akbar katakan

Dalam perjalanan ku bersama Akbar ini, aku seperti mengerti begitu keras tuntutan keluarga, Agama, Negara dan sosial kepada orang seperti kami.



Bersama Akbar, aku sempat berpikir untuk tidak memerlukan seorang pasangan gay. Aku hanya butuh seseorang agar dapat menyalurkan nafsuku dan orang itu haruslah bukan pria gay yang terbuka.

Hingga akhir hubungan ku dan Akbar atau mungkin aku tidak pernah berakhir dengan Akbar, aku menyadari apa yang ingin disampaikan dia padaku.


Mungkin Akbar ingin berkata, "Aku Gay, tapi aku pria, Aku islam dan salah satu tuntutan hidupku adalah memiliki anak. Siapa yang dapat memberikan aku itu? semua itu bisa di jawab oleh wanita."

Dan aku menyadari, kami adalah Aktor yang baik.




      Dua tahun berkerja di instansi itu, hubungan ku dengan Aditya juga tidak memiliki harapan apapun atau pun perkembangan yang baik. Lalu sore itu setelah akan pulang kerja, kepala divisiku memanggil aku ke mess-nya untuk membantu membersihkan kamarnya. Bagi kami seorang karyawan cleaning servis hal itu adalah wajar untuk dilakukan serta dimanfaatkan oleh atasan di luar jam kerja. Akbar nama kepala divisiku, dia saudara dari pemilik instansi tempat ku bekerja. Bagiku dan teman-teman untuk mencurigai Akbar memiliki kelainan mungkin sangat ada. Dia sangat ceroboh, karena beberapa waktu lalu saat kerja bakti Akbar sempat memegang bokong seorang pegawai pria yang seumuran dengan aku saat itu. Mungkin terkesan bercanda, tapi hal itu menurut beberapa orang terlalu sering dia lakukan. Terkadang Akbar memang menujukan prilaku kemayu, namun sebagian orang berpikir mungkin karena dia anak orang kaya dan mungkin anak manja.

Teguh adalah pemuda tampan, sebagai cleaning servis mungkin teguh tidaklah pantas dengan wajah itu. Ketika kami istirahat bersama di kantin kantor teguh sering menceritakan prilaku aneh Akbar kepadanya. Hal yang cukup sering Akbar lakukan adalah memanggil teguh keruang kantor nya untuk membantu merekap inventaris cleaning servis. Teguh menegaskan bahwa ada hal aneh pada Akbar, tapi semua orang mencoba mengingat tentang tidak membuat berita buruk.

Teguh berkata ketika kami asyik berkumpul saat jam istirahat, "kemarin pak Akbar memanggilku lagi ke kantor, aku kira akan melakukan apa ternyata dia menyuruhku untuk merekap barang-barang kita." 

Lalu seseorang menjawab, "syukur dong, mungkin nanti kami jadi asistennya. akan lebih baik bagi mu, bukannya Mira (perawat) menyukai mu. kamu jadi tidak akan malu bertemu keluargaanya kalau kerja dikantor." Teguh berpikir sesaat, "benar juga, tapi anehnya barang-barang itu baru minggu kemarin aku dan dia rekap. yang paling buat aku risih suaranya dan bercandanya itu sering memang tubuh ku." 

Semua orang tertawa dan seseorang mulai memperingakan Teguh untuk tidak bicara sembarangan. Selain Akbar adalah saudara pemilik instansi itu, budaya instansi itu juga sangat kental dengan kegiatan agama Islam. Akbar sangat rajin beribadah dan juga dia sangat dekat dengan beberapa ustad kolega dari saudaranya yang mengikuti jama'ah ustad-ustad itu.



Budaya agama Islam disana memang kuat, setiap pagi ketika apel pasti ada penceramah yang datang mengisi motivasi agama. Tapi sepertinya nafsu adalah sesuatu hal yang berbeda, keinginan Akbar untuk melakukan hubungan seks dengan pria mungkin tidak bisa dia tahan. Aku sangat meyakini Akbar sangat menjauhi sosial media untuk mencari pria gay lainnya. Saat itu aplikasi WeChat sudah keluar untuk menjadi sarana pencarian bagi orang terdekat disekitar kita. Selama saya menggunakan aplikasi itu, tidak ada aku menemukan Akbar dalam media itu. Walaupun akun ku sudah sangat jelas, photo pria telanjang dada dengan status profil mencari teman seks. Terkadang beberapa wanita menambahkan ku sebagai teman, agar terkesan normal sering aku merespon mereka namun sebatas teman chat saja.

Seperti itulah gambaran seorang Akbar, saat itu usianya sudah masuk 31 tahun dengan badan berisi serta jenggot panjang yang merupakan Sunnah bagi agama Islam. Saudara Akbar memiliki perawakan orang timur, namun berbeda dengan Akbar yang lebih terlihat seperti Cina dengan kulit putih dan mata sipitnya. Menurut ceritanya yang akan aku dengar sangat jauh nantinya, hal itu karena orang tua mereka merupakan pendatang cina dan India.


Kembali ke sore itu, dengan sangat takut karena isu yang menyebar tentang Akbar. Hal lain yang membuat ku cemas karena janji datang jam tiga namun aku baru selesai kerja jam empat. Ketakutan ku ternyata benar, ala-ala wanita yang sedang mengambek karena tidak tepat janji Akbar ternyata sudah mulai membereskan kamarnya sendiri. Perlahan aku masuk dan mulai membantunya, suasana hening lalu aku mencoba menjelaskan kepadanya.

Aku berkata padanya, "maaf pak, hari ini pekerjaan ku terlalu banyak di depan. Ada sekitar tiga pasien pulang bersamaan, shift sore hanya ada satu orang dan akan ada pasien lainnya yang akan masuk ke kamar itu."


Akbar yang merupakan kepala bagian jelas tahu jadwal kami dan bagaimana pekerjaan kami di depan. Suasana hati Akbar mulai berubah baik, dia berhenti dan mulai menyuruh-nyuruhku mengerjakan ini-itu dengan wajah kesalnya. Terkadang sesekali aku membuat candaan, sesuatu menempel di dinding kamar yang sepertinya aku kenal.  Ku jadikan bahan untuk membuat suasan menjadi lebih cair.

"itu apa pak? terompet dari daerah mana?" sambil menunjuk kearah Itu koteka yang menempel di dinding. Jelas Akbar tertawa mendengarnya, lalu berkata, "kamu mau mencobanya, suaranya cukup bagus." tawa Akbar semakin dalam.

Aku tahu benda itu, tapi aku mencoba dengan sangat baik hingga suasannya sudah menjadi sangat baik untuk kami bekerja dan mengobrol. Dengan melihat ekspresinya saat tertawa membuat aku semakin kuat berpikir kalau dia memiliki penyimpangan. Setelah semua hampir selesai dia meninggalkan ku dikamar dan mengambilkan ku minum dan beberapa Snack untuk kami makan. Kegiatan itu kami lakukan sampai Magrib pun telah lewat, lalu Akbar mandi dan kembali ke kamar untuk sholat. Saat itu aku akan izin pulang, tapi Akbar tidak mengizinkan ku karena menurutnya masih ada hal yang ingin dia minta bantuan pada ku. Selesai dia sholat kami lanjut merapikan lemarinya, Akbar yang seharusnya sudah memang mapan mungkin sudah pantas untuk menikah.

Lemarinya penuh dengan pakaian dan aksesoris mewah bagi kalangan mereka mungkin itu adalah hal biasa. Beberapa barang mulai dimasukkan kedalam kardus, ada baju, celana, ikat pinggang yang menurutnya sudah tidak dia gunakan. Semua itu akan dia sumbangan ke panti asuhan, lalu celana dalam, kaos kaki dan beberapa kaos dalam yang tidak dia gunakan masuk ke dalam kantong kresek untuk di buang. Saat itu aku sangat iseng, ada celana dalam dengan motif bunga lalu aku angkat dari laci itu.

Aku bilang padanya, "sepertinya ini masih bagus bolehkah ini untuk ku pak, seperti nya saudara ku akan senang jika aku beri ini untuknya."

Akbar tertawa jengkel dan mengambil celana itu dari ku sambil mengingatkan ku untuk tidak memegang barang dalamannya. Setelah selesai Merapikan lemari dia memisahkan beberapa kaos kaki dan celana dalam bermerek yang masih belum dipakainya kedalam kresek yang nantinya akan diberikannya pada ku karena telah membantunya. Kegiatan itu masih terus berlanjut sampai merapikan kaset CD bajakan yang sudah menumpuk beberapa rak di samping meja tv nya. Ada yang membuat aku tertarik saat itu, sepertinya judul film itu adalah Vampire diaries, aku melakukannya karena aku pikir itu sama dengan film yang lagi hits saat itu Twinlight. Tanpa dia suruh aku memutar film itu, pintu kamar sudah terkunci dan kami hanya tinggal merapikan beberpa hal itu.

Namun yang aneh adalah Akbar tersenyum, dia meminta ku untuk berhenti dan lanjut untuk nonton saja. Mungkin karena sudah malam Akbar mempercepat film itu sebelum masuk pada adegan pria vampir yang sedang melakukan seks dengan wanita vampir dan satu pria vampir. Pada awalnya biasa saja, namun Akbar semakin banyak bicara saat pria itu saling berhubungan seks. Akbar menjelaskan pada ku bahwa itu namanya threesome, dengan wajah bodoh aku pura-pura tidak paham akan hal itu.  Adegan pria menyodomi pria lain dimulai dan Akbar menambahkan penjelasannya kalau seperti itulah di luar negeri. Orang-orang melakukan seks bebas dan hal itu sangat biasa disana menurut Akbar. Dari situ aku berpikir ada hal yang ingin Akbar sampaikan, karena tidak ingin merusak suasana malam itu dengan mempertanyakan perkara agama terlebih aku juga takut melakukan penilaian terhadapnya, membuat aku hanya diam dan asyik menonton. Mungkin Akbar ingin sekali mengatakan pada ku ayo Making Love (ML), tapi Akbar sepertinya bukan orang yang bebas dan juga dia tahu aku cukup taat beragama seperti yang dia dapatkan dari kakak ipar ku yang juga satu tempat kerja.


Akbar menahan hal itu sepertinya, tiba-tiba tv mati dan dia berkata, "kamu tidak ingin pulang Kala? bukannya kau belum pulang dari tadi pagi. Aku juga sudah mau istirahat." Aku segera pamit dan Akbar memberikan beberapa barang yang di bungkus dalam kresek.

Di tempat kerja, saya tidak bisa bebas atau membuat masalah karena yang memasukkan saya kesana adalah kakak ipar saya. Satu kali saya melakukan hal yang mencurigakan, terlebih itu adalah kejanggalan atas penyimpangan maka akan berpengaruh pada dia. Kami pada di divisi yang sama dan bertahun-tahun dia mengajukan rekomendasi pemindahan divisi ke bagian penyegaran tidak mendapat respon kecuali nanti hal itu terjadi karena saya dekat dengan Akbar.

Setalah hari itu Akbar sepertinya memiliki banyak alasan untuk mengundang ku kamarnya walaupun terkadang aku sering mengajak teman-teman pria lain yang satu shift ikut dengan ku. Hal itu terkadang membuat marah dia dengan beberapa ungkapan yang kasar, seperti kenapa aku memutuskan sendiri, bertanya langsung apa alasan ku mengajak yang lain. Tapi hal itu tidak terjadi secara berlebihan, karena jelas Akbar harus menjaga nama baiknya dan begitupun aku. Terkadang untuk menghindari masalah, aku harus mengalah dengan diam dan meminta maaf padanya. Hingga malam itu pertama kali aku menyetubuhi dirinya, karena aku tidak bisa menahan diriku yang berada satu selimut dengannya. Kejadian hari itu hujan sangat deras, sampai jam kerja habis pun hujan tidak juga redah dan yang menambah parah Akbar mengirim pesan kepadaku agar aku ke kamarnya karena dia merasa sedang sakit. Sangat konyol, ketika kami berkerja di intansi rumah sakit tapi dia malah minta untuk di kerok dan dipijit.

Saat itu sempat terpikir untuk mengajak seseorang kesana agar aku bisa menghindari masalah, karena secara ragu aku masih berpikir bahwa Akbar bukan orang seperti saya. Tapi karena begitu takut mengambil resiko kalau sampai dia marah, aku pergi sendiri ke mess-nya. Dengan memakai baju kerja dan bau keringat yang jelas tercium olehnya membuat orang itu merasa sedikit angkuh.


Akbar menyuruh ku segera membersihkan diri di belakang, "mandi dulu sana Kal, bau mu tidak enak. kamu juga akan memegang badan ku." Lalu Akbar memberikan pakaiannya karena dia ingin meminta untuk memijit dan mengerokinya.

Tidak ada yang salah sampai saya balik ke kamar itu, di atas kasur aku melihat Akbar terguling dengan di tutupi selimut. Dia menyuruhku menutup pintu lalu menguncinya dan segera mengambil minyak dan mendekatinya. Aku yang saat itu merasa sangat bodoh adalah seorang bocah penurut yang membuat Akbar menyukai ku. Setelah di pinggir ranjang, Akbar membuka selimut sampai bagian bokongnya yang jelas itu memperlihatkan bahwa dia tidak memakai sehelai pakaian pun. Aku mulai mengerokinya dan menyelesaikan hal itu. Tapi Akbar menambahkan pekerjaan baru pada ku untuk memijitnya karena dia merasa sangat lelah. Aku menolak hal itu karena aku pikir aku harus pulang, Akbar marah padaku dan berkata kalau dia akan membayar ku. 

"aku menyuruhmu bukanlah hal yang gratis, jadi aku tidak perlu menolak" mungkin saat itu dia sudah marah. Karena tidak enak pada dia yang belakangan ini sangat baik pada ku akhirnya aku mengikuti keinginannya.

Dia berputar dan tengkurap, selimut di jatuhkannya kelantai dan aku di suruhnya memijat semua area di tubuhnya. Lalu malam itu terus berlanjut, tiba-tiba dia berputar dan meminta ku untuk memijat di bagian bawah sekitar buah zakarnya karena dia bilang disana terasa sakit.

Aku tertawa dan berkata, "sepertinya malam sudah larut dan hujan pun sudah redah pak. sebaiknya saya pulang karena aku tidak bilang akan menginap kepada orangtua ku."

Penolakan itu aku lakukan bukanlah karena aku tidak menyukai Akbar, lebih dari itu aku sangat takut ternyata aku salah dan membuat nama kakak ipar ku rusak sehingga mengganggu rekomendasi promosi yang sedang dia ajukan. Kesalahan Akbar adalah karena profil hidupnya terlalu bersih dengan taat beragama, mapan dan setiap kali bercerita dengan orang-orang ditempat kerja, dia mengatakan akan menikah dengan salah satu perawat disana.

Akbar mencoba menghentikan niat ku untuk pulang, Lalu dia berkata, "ini sudah sangat malam dan jalan sangat berbahaya bagiku. aku sudah SMS kakak ipar mu untuk bilang ke orangtua mu bahwa malam ini kamu menginap di tempat saya."


Setelah perdebatan itu Akbar berhenti menyuruhku untuk memijat dirinya karena aku memperlihatkan ketidak sukaan itu. Lalu dia menyuruh ku untuk mengambil kasur lipat di atas lemari dan dia menyerahkan remote tv karena dia akan tidur lebih dulu. Aku pun tidur di bawah hingga pukul dua malam aku terbangun karena merasa dingin, aku mencari remote AC yang saat itu berada di dekat Akbar. Semalam sepertinya Akbar tidak tidur, dia pura-pura terbangun dan melarang ku untuk mematikan AC itu.

"kenapa Kal? jangan di matikan! aku tidak bisa tidur kalau AC-nya mati." Akbar malah menyuruh ku untuk tidur di atas saja bersamanya dengan selimut yang sama dengan nya.

Karena ngantuk sudah cukup hilang setelah tertidur sesaat, berada di satu selimut dengan seorang pria telanjang di samping ku membuat aku berpikir kemana-mana hingga tidak bisa tidur. Satu jam berlalu sepertinya, lalu tiba-tiba tangan Akbar memegan kemaluan ku dan masuk kedalam celana ku yang terkesan seolah dia tidak sedang tidur. Akbar memainkan kemaluan ku dengan baik, karena tidak dapat menahan nafsu ku, aku membuka celana lalu berikutnya baju ku pun aku lepas. Akbar terus melakukan hal itu, nafsu semakin besar saat itu lalu dengan sembrono aku naik keatas tubuh Akbar dan mulai menggesek kemaluan ku pada paha hangat yang mulus itu. Akbar sangat sukses membuat aku gila, sperma ku tumpah di ranjang aku segera membersihkan kemaluan ku agar tidak membuat masalah. Dengan kejadian itu pun aku masih dalam ke raguan akan apa yang sebenarnya di inginkan oleh Akbar. Aku berpikir mungkinkah dia sama sepertiku atau malam itu Akbar memang sedang tidur dan bermimpi melakukan hal itu dengan wanita.


Pagi menyapa kami dan saat bangun Akbar bertanya pada ku darimana asal sperma itu. "tadi malam kamu mengetahui sesuatu Kal?" sambil menunjukan sperma yang berada di atas kasur.

Lalu aku membuat-buat cerita kalau malam tadi sepertinya dia bermimpim, aku tidak berani membangunkannya dan berkata bahwa itu berasal dari dirinya sendiri.  Aku yang setelah hubungan itu kembali memakai pakaian ku dan di celana ku tidak ada sedikitpun sisa sperma membuatku merasa Akbar akan berpacaya. Kami hanya tertawa dan aku mulai merasa nyaman dengan prilaku Akbar kepadaku.



Hubungan kami terus berlanjut seperti itu, Akbar selalu membuat alasan agar aku bisa menginap di kamarnya. Hal itu sepertinya menjadi kesenangan tersendiri bagiku, aku tidak perduli apakah dia benar-benar tidur atau pura-pura saat aku menidurinya. Hingga malam itu aku sangat tidak dapat mengontrol diri ku, setiap kali aku tidur di tempatnya pasti saya di suruh tidur diatas karena saya pasti kedinginan dan hal lain yang selalu sama dia tidur dengan tubuh terlanjang. Alasan Akbar karena itu sudah menjadi kebiasaannya dan di bawah selimut itu dia merasa hangat jadi walaupun memakai AC tetap perlu melepas pakaiannya. Aku sepertinya selalu menerima apapun alasan Akbar, yang di pikiran ku adalah apa peduliku.

Aku hanya harus berpikir aku bisa melampiaskan nafsuku tanpa harus mengambil resiko bermain dengan sosial media ku. Malam itu sebelumnya aku baru selesai dari warnet dan menonton film gay yang membuat nafsuku sepertinya meledak-ledak. Seperti biasa, tengah malam Akbar akan memulai lebih dulu hal itu dengan memainkan kemaluan ku. Aku terbawah suasana malam itu, karena begitu banyak imajinasi yang berada di kepala ku sehingga aku memberanikan diri untuk mengangkat kakinya. Belum ada reaksi penolakan saat itu dari Akbar, aku sudah sangat tidak terkontrol saat itu. Aku membasahi kemaluan ku dengan air ludah dan membasahi dubur Akbar dengan air ludah juga dan dia juga belum bereaksi apapun. Aku mulai memasukkan kemaluan ku ke dalam duburnya, mungkin hanya setengah dari kemaluanku berada di dalam, lalu Akbar seolah-olah terbangun dan menjauhkan dirinya dari ku. Dengan keadaan seperti itu aku sangat panik, aku merasa takut dengan segala resiko yang akan aku hadapi.



Akbar berkata padaku, "kamu sangat konyol Kal, kamu sepertinya sudah diriku gila sampai berani melakukan hal itu."

Saat itu rasanya aku ingin segera pulang namun Akbar menyuruh ku tidur saja dibawah hingga menunggu pagi. Setelah pagi kami tidak bicara, aku sangat malu dan menjadi salah tingkah dengan Akbar. Aku pamit lalu pulang, semenjak kejadian itu aku mulai menjauhkan diri dari Akbar dan berpikir akan resign. Berulang kali aku mengajukan surat resign tapi Akbar seperti tidak menanggapi hal itu. Dia membuat ku gila sehingga membuat ku berpikir untuk menjauhkan diri ku saja dan menghindar dari apa pun yang berhubungan dengan Akbar.

Karena perilaku ku seperti itu, Akbar selalu membuat masalah dengan ku setiap kali pekerjaan ku di anggapnya salah dan di depan pegawai lain aku selalu di buatnya jadi contoh buruk karena tidak mau belajar dan selalu menghindarinya. Selama proses aku menghindarinya ternyata Akbar terus mencoba mencari tahu dari kakak ipar ku tentang tingkah ku yang menjauhinya. Serta Akbar meminta bantuan kakak ipar ku untuk membuat aku berprilaku kepadanya seperti biasa dan kembali bekerja seperti biasa pula. Kakak ipar ku dan Akbar sangat dekat, bagi kakak ipar ku Akbar lah yang akan membantunya dapat masuk pada divisi penyegaran. Dia memerankan perannya dengan baik untuk menjadikan aku kembali berkomunikasi dengan Akbar. Kakak ipar ku sampai saat ini sepertinya tidak tahu apa yang terjadi dengan ku dan Akbar, dia berusaha keras menasehati ku dan memberi tahu bahwa Akbar adalah orang yang baik dan aku tidak boleh tidak sopan dengan menghindarinya atau pun mengacuhkannya.

Dia terus memohon bantuan pada ku, dia berpikir kalau Akbar akan mengangkat ku menjadi asistennya atau pada posisi yang lebih baik lagi dan itu akan membantu promosi jabatannya juga. Kakak ipar ku membuat hal ini menjadi lebih sulit saat itu, hingga kegiatan kerja bakti berikutnya berlangsung Akbar memulai lebih dulu mendekati dan mengajak ku bercanda. Karena ada kakak ipar ku di dekat kami aku menanggapi prilaku Akbar itu dengan baik. Setelah hari itu berangsur-angsur hubungan kami semakin dekat kembali, hingga alasan untuk bersih-bersih kamarnya dia lakukan kembali dan mengundang ku. Kali ini aku tidak sendiri, ada Agung bersama kami hari itu untuk membersihkan kamar Akbar. Namun entah bagaimana hal itu terjadi, tiba-tiba Agung di panggil Kapala ruangan untuk membersihkan kamar pasien yang sudah pulang lalu kami di tinggal berdua.



Hari itu Akbar bertanya langsung kepada ku kenapa menjauh, "sudah cukup lama kita tidak dekat seperti ini Kal? sebenarnya, kenapa kamu mulai menjauhi ku?"

Lalu aku jelaskan semuanya kepada Akbar. "Aku sangat malu malam itu, aku pikir bapak menyukai hubungan seks dengan ku. selama saya menginap di kamar bapak, saya selalu melakukan hubungan itu bersama bapak. tapi itu semua karena bapak yang lebih duluh melakukannya kepadaku." Akbar bertanya, "apa yang aku lakukan pada mu?" aku meneruskannya, "setiap kali saya tidur disini bapak pasti memegang kemaluan ku sambil mengocoknya. aku sebenarnya menyukai pria tapi aku juga takut. aku minta maaf pak."



Lalu Akbar meminta maaf karena hal itu. Dia memberi tahu aku dan berkata, "dari awal kita berhubungan saya tidak benar-benar tertidur. Aku merasa hal itu sangat aneh untuk membuat ku mengakui semua itu. Tapi saya tidak bisa mengungkiri kalau hal itu juga saya inginkan. Tapi malam dimana kamu memasukkan kemaluan mu ke dalam duburku membuat aku ragu sekaligus sakit. Kamu sepertinya tahu orang seperti apa aku, keluarga ku, nama baik kakak ku, atau apapun yang sudah aku capai tidak mungkin aku hancurkan. Aku juga berpikir bahwa kamu adalah laki-laki pada umumnya yang hanya tidak dapat menahan nafsu lalu meniduriku, Kala!" Akbar yang sambil menyusun pakaian dalam lemari terdengar begitu serius dengan ucapannya.

Malam itu dia hanya kaget, tapi karena ekspresi ku yang sudah tertunduk dan takut membuatnya hanya bisa meneruskan tidur tanpa berpikir bahwa aku akan menjauhinya. Namun setelah malam itu aku mulai menjauh dan Akbar merasa juga kehilangan. Dengan pengakuan Akbar itu aku menjadi sangat legah dan kami hanya bisa saling tersenyum sambil meneruskan pekerjaan itu.



Akbar bukanlah harapan untuk sebuah kisah cinta sepasang pria gay yang akan indah dengan memutuskan untuk memberontak pada aturan pemerintah, sosial terlebih agama. Tapi masa bersama Akbar setelah pengakuannya padaku adalah hal yang indah, aku bisa melepaskan kembali nafsuku tanpa kembali mencari di media sosial.


Dengan akbar aku mengetahui bahwa hubungan seksual tidak sebatas lubang dubur. Akbar selalu mengingatkan ku tentang dosa besar memasukan kemaluan kedalam dubur, baik itu pada pria atau pun wanita. Kegilaan ku tentang pria ketika bersama  Akbar cukup unik untuk aku ingat, dimana hal itu terasa sangat indah tapi tidak mungkin buat kami menjadi sepasang kekasih. Kami mungkin saat itu adalah orang yang masih berpikir akan membuat sebuah keluarga sesuai harapan orang tua. Baik aku atau pun Akbar sangat mengharapkan seorang anak dalam hidup kami dan yang terpenting adalah dari darah daging kami sendiri. Namun kebahagiaan yang sudah cukup sempurna itu aku tinggalkan ketika Aditya datang kembali dengan merespon postingan ku di FB.

Saat itu, target tiga tahun mengumpulkan uang untuk kuliah ku makin berkurang. Kebiasaan anak mudah yang galau namun sepertinya menguntungkan adalah mem-posting segala hal yang dia pikirkan. Aku menulis pada wall ku bahwa aku semakin cemas, apakah aku bisa jadi kuliah atau tidak. Di sana Aditya merespon, tapi karena kesibukan dan aku juga mulai jarang membuka FB membuat ku tidak tahu kalau dia merespon hal itu. Hingga malam hari telpon ku berbunyi, tertulis nama penipu dilayar hp ku yang aku sadari Aditya akan kembali.




Percakapan itu dimulai oleh Aditya yang membahas postingan itu, "Hallo Kal, Bagaimana kabar mu. tadi kemarin aku membaca status mu. Bagaimana dengan rencana kuliah mu?"

Lalu aku menjelaskan tentang keadaan buruk keuangan ku, saat itu tidak pernah memiliki niat bahwa berharap Aditya akan membantu ku. Selain pengalaman yang menyadarkan ku tentang keegoisannya  meninggalkan ku menurut ku itu adalah hal yang tidak mungkin aku harapkan. Uang ku hanya tersimpan lima juta lebih, aku yang pada awalnya bermimpi dapat lulus SBMPTN dengan beasiswa ditahun terakhir ijasa ku adalah sebuah kekonyolan. Sadar bahwa uang itu tidak akan cukup jika aku lanjut ke universitas swasta, aku berkata pada Aditya untuk membatalkan niat ku kuliah. Aku berpikir akan segera memenuhi permintaan orang tua ku untuk menikah saja, lalu dengan sedikit candaan aku berkata agar dia datang dengan kado terbesarnya.

Pembahasan itu menjadi cukup serius setelah aku bilang akan menikah, Aditya yang saat itu entah habis putus dengan seseorang mengajak ku untuk datang ke Jogja. Aku mencoba menjelaskan pada dia bahwa tanpa alasan yang tepat aku tidak mungkin meninggalkan orang tua ku. Selain alasannya karena penyakit asma ku, orang tua ku sangat tidak ingin pisah jauh dari ku setelah kepergian ku ke Palembang. Aditya mencoba mencari penyelesaiannya sendiri hingga dia memutuskan akan menguliahkan aku dan menghidupi ku di Jogja.  Butuh waktu lebih dari satu bulan bagi ku menjawab pertanyaan Aditya. Selain aku harus menyiapkan banyak alasan kepada orang tua ku agar yakin bahwa aku tidak akan apa-apa, pada masa itu juga keluarga ku sedang dalam kehancuran. Orang tua ku mutuskan untuk bercerai dengan permasalahan yang mereka miliki, adiku Raffa yang tetap membuat banyak masalah menjadikan aku ingin menyerah. Dengan semua kejadian itu semakin kuat alasan ku untuk pergi demi memperbaiki kehidupan baik itu untuk diriku sendiri ataupun keluarga.



Rencana yang cukup besar pun di buat, aku mengiyakan tawaran Aditya kepada ku untuk datang ke Jogja. Lalu untuk meyakinkan sahabat dekat ku Satria dan keluarga, aku harus terlihat bahwa ini adalah perjalanan yang sulit. Suatu hari aku menemukan seorang teman SMA yang cukup dekat dengan ku untuk menjadi alasan bagi Satria untuk percaya sekaligus dia akan meyakinkan orang tua ku bahwa disana aku akan baik-baik saja. Orang tua ku tidak tahu tentang uang tabungan ku berapa jumlahnya, aku hanya bilang ke mereka jika akan membantu, aku akan sangat senang dengan hal itu. Akhirnya orang tua ku memutuskan akan menjual rumah pertama kami dan akan memberi saya uang tambahan secepatnya dari hasil penjualan itu tapi mereka juga menegaskan bahwa hanya itu yang dapat mereka berikan. Aku mengiyakan hal itu, lalu pergi ke Jogja dengan di sambut Wahyu seorang teman SMA di Prabumulih.

Aku bilang kepada Aditya untuk memberikan aku waktu agar semua berjalan sesuai dengan yang aku harapkan. Aku yang dari dahulu sangat tidak ingin orang tahu tentang penyimpangan ku ini terus membuat drama seperti apa yang aku pikirkan. Tapi hal tidak terduga adalah Wahyu ternyata begitu baik, dia mencarikan ku kosan yang saat itu adalah cara agar aku lebih dekat dengan kampus. Wahyu saat itu sedang semester akhir, tugas kuliah dan kamar kos yang saat itu tidak ada yang kosong membuat dia prihatin pada ku. Karena tidak menyiapkan alasan untuk hal seperti itu, akhirnya aku mengikuti niat baik Wahyu dan membicarakannya pada Aditya. Dengan dewasa dan sabarnya Aditya mengiyakan hal itu walaupun kami sempat bertengkar, kosan yang harus dibayar tahunan itu mengambil keluar uang tambungan ku.


Perjalan terbaik sebuah kisah cinta ku dengan pria sempurna bernama Aditya akan aku ceritakan dilembar yang lainnya. Tapi yang jelas, kehidupan ku semua Aditya yang membiayai dari kuliah makan dan hal-hal gila bersamanya layaknya pasangan suami -istri. Namun cerita cinta sempurna itu tidak bertahan lama, kami hanya berjalan dua semester dalam masa percintaan itu. Sebelum akhirnya Aditya kecewa dan meninggalkan ku atas apa yang aku pilih. Dari rasa sakit pria ini lah hidupku seperti hancur atau akhirnya aku belajar untuk memutuskan untuk memulai hubungan serius bersama pria tanpa ragu. Tapi perjalanan itu akan panjang, sebelumnya aku akan menjadi money boy kembali dan terjebak dengan beberapa masalah percintaan yang aku kira aku akan siap menjalani semua itu.
Share:

Popular Posts